Esai
yang telah dibuat oleh Nilna Zakkiya 'Azmi dengan judul Pementasan Cerita
Rakyat, menurut saya sangat menarik dan mudah dipahami oleh pembaca. Kata-kata
yang ditulis pun sangat ringan untuk dibaca, tidak membuat kebingungan dan rapi
dalam penulisannya. Dalam esai yang telah dibuat pun menjelaskan seluruh alur
cerita dan keadaan dalam pementasan teater Jaka Tarub dan Pentas Monolog Balada
Sumarah. Pembaca dibuat hanyut dalam esai yang dibuat oleh Nilna Zakkiya 'Azmi.
Pementasan
yang dibuat oleh Teater Gema, Universitas PGRI Semarang sebaiknya serinh
diadakan. Diharapkan dengan diadakannya pementasan teater dapat memelihara
kesenian, kebudayaan, hiburan dan pengetahuan bagi penontonnya. Tidak hanya itu
saja, dalam pementasan juga terdapat amanat yang disampaikan bagi para
penontonnya. Memang banyak kelebihan-kelebihan dalam pementasan teater yang
bertemakan cerita rakyat. Pendidikan dan penanaman moral tidak hanya dilakukan
di dalam kelas saja, akan tetapi pendidikan dan penanaman moral juga dapat
dikembangkan di luar kelas seperti melalui pementasan teater.
Tidak
hanya mahasiswa yang dapat menyaksikan teater Jaka Tarub, akan tetapi semua
kalangan seperti anak-anak, remaja, hingga orang dewasa dapat menyaksikan
teater Jaka Tarub. Dalam teater juga menyuguhkan hiburan yang membuat suasana
menjadi riuh oleh tawa dari penonton. Lawakan sederhana akan tetapi sangat
menghibur penonton hingga terpingkal-pingkal. Tiga orang pemuda yang memiliki
perut buncit dengan mengenakan baju yang memperlihatkan bentuk perutnya membuat
gelak tawa penonton memenuhi isi ruangan.
Dalam
pementasan Jaka Tarub, awal pertunjukan memang penonton dibuat kebingungan
dengan alur cerita yang menampilkan seorang Jaka Tarub dan anaknya yang sedang
duduk di teras rumah. Anak tersebut merindukan ibunya yang bernama Dewi Nawang
Wulan. ang entah tak tahu di mana keberadaannya. Jaka Tarub belum menceritakan
di mana ibunya berada, Jaka Tarub muram dan bingung mengingat kejadian ketika ditinggalkan
oleh istrinya yang sangat ia cinta. Alur yang disajikan berupa alur campuran
karena dalam cerita menceritakan akhir cerita kemudian dilanjutkan dengam awal
cerita lalu berakhir dengan cerita yang disajikan di akhir cerita.
Tidak
hanya menyuguhkan teater Jaka Tarub, akan tetapi juga menyuguhkan Pentas
Monolog Balada Sumarah yang akan dibawa ke Kendari Sulawesi Tenggara dalam
rangka Peksiminas. Seorang perempuan berperan sebagai Sumarah melakukan
perannya sangat bagus dan memukau para penonton. Suaranya pun lantang dan ia
dapat menirukan beberapa orang dengan intonasi nada yang berbeda-beda. Sehingga
dalam perannya mudah dipahami oleh penonton ia sedang menjadi siapa dan sedang
menirukan siapa. Perannya pun sangat serius dan membuat merinding dengan alur
cerita yang sangat tragis dan memilukkan hingga ia menangis dengan apa yang
Sumarah rasakan.
Pentas
Monolog Balada Sumarah menceritakan sesorang yang bernasib tragis di negara
sendiri. Cerita tersebut seperti terjadi didalam kehidupan nyata di Indonesia.
Seperti tidak mendapatkan keadilan di negeri sendiri, selalu tertindas dan
menjadi cemoohan di tempat yang ia tinggali. Sehingga ia memilih untuk menjadi
TKW di negara lain, jauh dari tempat ia lahir yaitu di Arab Saudi.
Namun
dalam bayangan Sumarah ia akan sukses dinegeri orang lain, akan tetapi semua
yang ia bayangkan tidak sesuai dengan yang ia inginkan. Ia lebih tertindas di
negeri orang dan merasa putus asa hingga memilih cara yang kejam dan
mengenaskan yaitu dengan cara membunuh majikannya. Memang semua yang diinginkan
belum tentu sesuai dengan yang diharapkan. Selalu bersyukur dan berdoa kepada
Tuhan agar dimudahkan di dunia dan di akhirat.
Kita
harus hidup saling rukun dan damai untuk keamanan dan ketertiban dalam hidup. Sehingga
tidak terjadi pembunuhan dan hal-hal buruk yang akan menimpa kita di dunia dan
akhirat. Kalaupun hidup rukun dan damai lebih indah, mengapa harus hidup dengan
permusuhan dan peperangan. Sebab jika kita menanamkan dan berbuat kejahatan
maka kelak kejahatan akan terus kita lakukan meskipun sekecil apapun dan
mendapatkan keburukan di suatu hari kelak. Begitupula dengan kebaikan, apabila
kita menanamkan kebaikan maka yang akan kita panen ialah kebaikan kita sendiri
dan menguntungkan bagi kehidupan kita di masa yang akan datang.
Semoga pementasan teater seperti ini dapat terus
dilestarikan dan dijaga hingga anak cucu dapat mengetahui cerita legenda yang
dari dulu dilestarikan dan dijaga. Teater juga melatih untuk mengembangkan
potensi yang ada di dalam diri kita untuk menjadi seseorang yang berani dan
memiliki jiwa kesenian di dalam dirinya. Bukannya menjadi seseorang yang tidak
memperdulikan cerita-cerita pada jaman dahulu. Akan tetapi diharapkan tidak
merusaknya dan melupakan cerita pada jaman dahulu. Sebab terdapat amanat yang
harus diteladani dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari pada setiap cerita
rakyat atau cerita legenda yang ada di negeri ini.
--Dhini Huda Chasanati,
Mahasiswa Universitas PGRI Semarang.
0 komentar:
Posting Komentar