Minggu, 25 Desember 2016

Jiwa Kesenian dan Kebudayaan, Melalui Drama Cerita Rakyat

       Esai yang telah dibuat oleh Nilna Zakkiya 'Azmi dengan judul Pementasan Cerita Rakyat, menurut saya sangat menarik dan mudah dipahami oleh pembaca. Kata-kata yang ditulis pun sangat ringan untuk dibaca, tidak membuat kebingungan dan rapi dalam penulisannya. Dalam esai yang telah dibuat pun menjelaskan seluruh alur cerita dan keadaan dalam pementasan teater Jaka Tarub dan Pentas Monolog Balada Sumarah. Pembaca dibuat hanyut dalam esai yang dibuat oleh Nilna Zakkiya 'Azmi.

Pementasan yang dibuat oleh Teater Gema, Universitas PGRI Semarang sebaiknya serinh diadakan. Diharapkan dengan diadakannya pementasan teater dapat memelihara kesenian, kebudayaan, hiburan dan pengetahuan bagi penontonnya. Tidak hanya itu saja, dalam pementasan juga terdapat amanat yang disampaikan bagi para penontonnya. Memang banyak kelebihan-kelebihan dalam pementasan teater yang bertemakan cerita rakyat. Pendidikan dan penanaman moral tidak hanya dilakukan di dalam kelas saja, akan tetapi pendidikan dan penanaman moral juga dapat dikembangkan di luar kelas seperti melalui pementasan teater.

Tidak hanya mahasiswa yang dapat menyaksikan teater Jaka Tarub, akan tetapi semua kalangan seperti anak-anak, remaja, hingga orang dewasa dapat menyaksikan teater Jaka Tarub. Dalam teater juga menyuguhkan hiburan yang membuat suasana menjadi riuh oleh tawa dari penonton. Lawakan sederhana akan tetapi sangat menghibur penonton hingga terpingkal-pingkal. Tiga orang pemuda yang memiliki perut buncit dengan mengenakan baju yang memperlihatkan bentuk perutnya membuat gelak tawa penonton memenuhi isi ruangan.

Dalam pementasan Jaka Tarub, awal pertunjukan memang penonton dibuat kebingungan dengan alur cerita yang menampilkan seorang Jaka Tarub dan anaknya yang sedang duduk di teras rumah. Anak tersebut merindukan ibunya yang bernama Dewi Nawang Wulan. ang entah tak tahu di mana keberadaannya. Jaka Tarub belum menceritakan di mana ibunya berada, Jaka Tarub muram dan bingung mengingat kejadian ketika ditinggalkan oleh istrinya yang sangat ia cinta. Alur yang disajikan berupa alur campuran karena dalam cerita menceritakan akhir cerita kemudian dilanjutkan dengam awal cerita lalu berakhir dengan cerita yang disajikan di akhir cerita.

Tidak hanya menyuguhkan teater Jaka Tarub, akan tetapi juga menyuguhkan Pentas Monolog Balada Sumarah yang akan dibawa ke Kendari Sulawesi Tenggara dalam rangka Peksiminas. Seorang perempuan berperan sebagai Sumarah melakukan perannya sangat bagus dan memukau para penonton. Suaranya pun lantang dan ia dapat menirukan beberapa orang dengan intonasi nada yang berbeda-beda. Sehingga dalam perannya mudah dipahami oleh penonton ia sedang menjadi siapa dan sedang menirukan siapa. Perannya pun sangat serius dan membuat merinding dengan alur cerita yang sangat tragis dan memilukkan hingga ia menangis dengan apa yang Sumarah rasakan.

Pentas Monolog Balada Sumarah menceritakan sesorang yang bernasib tragis di negara sendiri. Cerita tersebut seperti terjadi didalam kehidupan nyata di Indonesia. Seperti tidak mendapatkan keadilan di negeri sendiri, selalu tertindas dan menjadi cemoohan di tempat yang ia tinggali. Sehingga ia memilih untuk menjadi TKW di negara lain, jauh dari tempat ia lahir yaitu di Arab Saudi.

Namun dalam bayangan Sumarah ia akan sukses dinegeri orang lain, akan tetapi semua yang ia bayangkan tidak sesuai dengan yang ia inginkan. Ia lebih tertindas di negeri orang dan merasa putus asa hingga memilih cara yang kejam dan mengenaskan yaitu dengan cara membunuh majikannya. Memang semua yang diinginkan belum tentu sesuai dengan yang diharapkan. Selalu bersyukur dan berdoa kepada Tuhan agar dimudahkan di dunia dan di akhirat.

Kita harus hidup saling rukun dan damai untuk keamanan dan ketertiban dalam hidup. Sehingga tidak terjadi pembunuhan dan hal-hal buruk yang akan menimpa kita di dunia dan akhirat. Kalaupun hidup rukun dan damai lebih indah, mengapa harus hidup dengan permusuhan dan peperangan. Sebab jika kita menanamkan dan berbuat kejahatan maka kelak kejahatan akan terus kita lakukan meskipun sekecil apapun dan mendapatkan keburukan di suatu hari kelak. Begitupula dengan kebaikan, apabila kita menanamkan kebaikan maka yang akan kita panen ialah kebaikan kita sendiri dan menguntungkan bagi kehidupan kita di masa yang akan datang.

            Semoga pementasan teater seperti ini dapat terus dilestarikan dan dijaga hingga anak cucu dapat mengetahui cerita legenda yang dari dulu dilestarikan dan dijaga. Teater juga melatih untuk mengembangkan potensi yang ada di dalam diri kita untuk menjadi seseorang yang berani dan memiliki jiwa kesenian di dalam dirinya. Bukannya menjadi seseorang yang tidak memperdulikan cerita-cerita pada jaman dahulu. Akan tetapi diharapkan tidak merusaknya dan melupakan cerita pada jaman dahulu. Sebab terdapat amanat yang harus diteladani dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari pada setiap cerita rakyat atau cerita legenda yang ada di negeri ini.


--Dhini Huda Chasanati, Mahasiswa Universitas PGRI Semarang.

0 komentar:

Posting Komentar