Senin, 25 Januari 2016

The LooK uP : for the last reason



The LooK uP

pernahkah kalian bertanya kepada diri kalian?
"apakah kita bisa mengulang kenangan indah kita dulu?”
pernahkah kalian berfikir?
"kapan ya.. terakhir kita semua ngumpul?”
seringkah kalian membayangkan...
"bagaimana ya.. kabar sahabat-sahabatku?”

aku rindu kalian

kita berada pada tempat yang jauh dan berbeda...
tapi tujuan kita sama... untuk menjadi sukses

kita sibuk dengan kesibukan masing-masing...
tapi alasan kita sama... untuk menggapai mimpi

begitukah...?

kita semua mungkin sudah ada teman baru...
atau mungkin?
...
...sahabat baru

tapi itu bukanlah alasan untuk melupakan siapa kita
dan untuk apa kita pernah bertemu
saat salah satu dari kita sadar telah melangkah terlalu jauh
-its fine-
...just look up...
we are all there to care

cause we will always together
when we saw the same things

and be always together
forever
see you on top...

...my best friends ^^

-TLU-

Wayang Kampung Sebelah "Mawas Diri Menakar Berani"

Pada hari Selasa, 20 Oktober 2015 pukul 09.00-12.30 WIB bertempat di Balairung Universitas PGRI Semarang mengadakan rangkaian acara dalam memperingati Bulan Bahasa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, salah satu acara tersebut ialah mengadakan nonton bareng Wayang Kampung Sebelah. Dalam acara ini para mahasiswa Universitas PGRI Semarang khususnya Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni diwajibkan datang untuk memeriahkan acara tersebut. Bapak Rektor Dr.Muhdi, S.H., M.Hum memberikan sambutan dan dilanjutkan oleh bapak Ketua Yayasan PGRI Dr. Sudharto, M.A., kemudian bapak Rektor dan bapak Ketua Yayasan menyerahkan wayang dengan tokoh utama yaitu Kampret kepada dalang Ki Jlitheng Suparman, ini merupakan pertanda akan dimulainya pentas Wayang Kampung Sebelah.

Wayang Kampung Sebelah merupakan sekelompok para pecinta seni yang terdiri dari dalang Ki Jlitheng Suparman, para pemain musik dan seorang sinden. Pertunjukan mereka dilengkapi dengan berbagai tokoh wayang dan tentunya alat musik untuk memeriahkan pagelaran. Semua pemain musik mengenakan pakaian yang seragam, dan sinden yang berdandan dengan cantik, serta pakaian dalang yang serba hitam. Wayang Kampung Sebelah membawakan pentas dengan judul “Mawas Diri Menakar Berani” ini menceritakan tentang pemilihan calon kepala desa di sebuah desa yang bernama Desa Bangunjiwa.

Acara dimulai dengan nyanyian seorang sinden dan diiringi dengan musik. Setelah lagu selesai dinyanyikan oleh sinden mulailah dalang Ki Jlitheng Suparman membuka acara dengan sangat meriah. Pertunjukan dimulai dengan kegiatan pemilu yang tengah kebingungan mencari papan tulis untuk perhitungan suara pemilu. Namun ternyata papan tulisnya hilang, sehingga hansip yang bernama Sodrun bertugas menjaga keamanan ditegur dan dimarahi Eyang Sidik. Hansip  tidak terima dikatakan tidak bertanggungjawab karena dia sudah merasa menjadi hansip  yang bertanggungjawab dan menjalankan tugas dengan benar. Sehingga terjadi perselisihan diantara mereka. Saat kejadian tersebut datanglah seorang sebagai kepala rumah tangga kelurahan yang bernama Suto, ternyata mengaku membawa papan tulis tersebut dengan maksut menyimpan kembali papan tulis itu karena panitia menggunakan peralatan kantor kelurahan tanpa seizin dia.

Memunculkan tokoh yang bernama pak Plungsur yang mencalonkan diri sebagai kepala Desa Bangunjiwa. Pak Plungsur yang bahasanya terlihat intelek. Namun justru malah yang membingungkan dengan bahasa tersebut. Singkat dari ceritanya itu pak Plungsur dan pak Somad sedang bersaing untuk dapat menjadi orang nomor satu di desanya yaitu Desa Bangunjiwa. Kedua calon tersebut menggunakan cara yang kurang baik dalam pemilu yaitu dari mulai money politik hingga curang dalam perhitungan suara. Eyang Sidik lantas membacakan hasil penghitungan suara yang menempatkan Somad sebagai pemenang pilkades. Pak Somad diminta menandatangani berita acara penetapan pemenang, sambil secara tersamar Eyang Sidik meminta bonus upaya pemenangan kepada pak Somad. Pak Parjo mempertanyakan posisi Eyang Sidik yang sebagai panitia ternyata diam-diam berafiliasi kepada salah satu kontestan.

Diadakan acara dangdut untuk memeriahkan kemenangan pak Somad, dengan menampilkan penyanyi dangdut seperti Koma Ramarimari dengan goyangan gitarnya yang membuat penonton ketawa. Penyanyi Syahmarni dengan goyangan kepala dan pingggul bahkan gerakan tubuh yang lucu dan memecahkan semua para penonton untuk tertawa. Apalagi goyangan Minul Darah Tinggi juga membuat penonton terbahak-bahak, tidak lupa juga penyanyi Bob Marlayang yang membuat penonton makin tepingkal-pingkal dengan tingkah kocaknya yang menggunakan logat ngapak menambah gurauan di area balairung UPGRIS. Akan tetapi di balik cerita lucu dan mengibur itu wayang kampung sebelah juga memberikan banyak pengajaran bagi penontonnya. Rasa nasionalisme dan rasa mawas diri tidak hanya oleh rakyat, akan tetapi para pemimpin negara dan dalam rasa demokrasi ini rakyat juga berpengaruh tidak dengan uang saja yang kaya akan memimpin.

Dunia merupakan kisah sandiwara bagi para manusia. Fakir miskin dipelihara oleh negara supaya tetap lestari.  Makanya kita ini sudah keliru dalam memilih pemimpin yang tidak berdasarkan pada pancasila. Sejuta manusia tidak hafal pancasila tidak berbahaya, akan tetapi yang berbahaya adalah seorang pemimpin yang tidak bisa mengerti arti  pancasila. Oleh karena itu di Bulan Bahasa kita merayakan bersama-sama dan memeriahkannya. Sehingga benar-benar dapat menjadi manusia yang unggul berkarakter dan berjatidiri.

Bapak Somad dicopot dari jabatannya sebagai lurah, karena dianggap belum bisa melaksanakan amanat rakyat. Belum bisa menjadi pejabat yang diharapkan dan sudah banyak melakukan kecurangan serta tidak dapat menjaga amanat rakyat. Contoh kesalahan bapak Somad selain melakukan suap menyuap juga tidak dapat mengendalikan tawuran masyarakat. Tawur masyarakat tidak hanya dilakukan dengan cara pidato namun juga menggunakan cara yang tegas dan keras sehingga masyarakat menjadi jeli. Selain itu juga perlu penanaman nilai agama. Sehingga agama tidak boleh ikutserta dalam hal politik. Jika agama yang dianggap suci dibawa ke ranah politk. Lalu siapa yang akan mensucikan kalau agama saja dibawa ke hal yang kotor? Kita harus mawas diri, memperbaiki, merenungkan dan bangkit menjadi bangsa yang besar, tercapai cita-cita menjadi Indonesia emas. Sebab jika tidak segera sadar maka jangan tunggu lama, besok atau 5 tahun yang akan datang Indonesia akan bubar.

Soekarno : Indonesia Merdeka.

Film terbaru Hanung Bramantyo berjudul Soekarno: Indonesia Meredeka yang dibuat pada tahun 2013, kembali membuat kontroversi dan mendapatkan sambutan dari penikmat film. Film ini mampu menguras emosi patriotisme dan kebangsaan sehingga membuat penontonmenangis haru mengikuti alur kisah dan emosional yang di sutradarai oleh Hanung.

Film ini menuai kontroversi di sana sini. Contohnya adegan Sukarno merangkul Fatmawati yang seperti perilaku yang kurang sopan karena Sukarno sudah mempunyai seorang istri, lalu mengenai kebiasaan kencing Sukarno di penjara. Film ini menunjukkan seolah Sukarno seorang playboy diantara dua wanita.

Film terbaru karya Hanung Bramantyo dengan judul, Soekarno: Indonesia Merdeka, mengisahkan dengan ringkas dan cerdas tentang kisah kehidupan Sukarno Sang Proklamator. 

Beberapa ulasan akan saya sampaikan mengenai karya film Hanung Bramantyo yang berjudul Soekarno:

Pertama, mengenai alur tokoh Sukarno, Hanung Bramantyo telah memaparkan dengan baik dalam bahasa film seorang Sukarno sebagai seorang pemimpin nasional menuju Indonesia merdeka, Sukarno sebagai seorang suami serta Sukarno sebagai seorang lelaki dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Pada karya film Hanung Bramantyo yang berjudul Soekarno:Indonesia Merdeka, mengetengahkan sosok historis Sukarno di kehidupan sosial sebagai seorang pemimpin pergerakkan menuju kemerdekaan Indonesia. Seluruh gambaran yang ditampilkan sebagai seorang tokoh diidealisir sehingga menampilkan kesempurnaan sikap dan pikiran serta perilaku. 

Namun demikian, Hanung tidak hanya menampilkan sosok historis Sukarno, melainkan menampilkan Sosok Sukarno dalam karakter Sukarno kecil saat masuk sekolah di HBS dan mencintai apa adanya seorang gadis Belanda, saat Sukarno hidup di penjara dan buang air kecil di penjara dalam sebuah wadah dan membuangnya di luar pintu penjara, saat Sukarno terpikat hatinya pada Fatmawati dan berusaha memperoleh perhatian dalam banyak kesempatan, saat Sukarno tersenyum bahagia dikunjungi Gatot yaitu temannya dan memberikan komentar tentang Fatmawati dan anaknya, “Jujur, aku tidak bisa memungkiri hati kecilku kalau aku butuh anak!

Dengan demikian, karya film Hanung menyajikan tokoh Sukarno secara lengkap. Di sinilah letak kekuatan film Hanung yang bagi saya dapat menyentak emosi kejiwaan sekaligus menorehkan kesan mendalam dalam momen-moment penting yang disajikan sehingga membangkitkan jiwa patriotisme dan nasionalisme. 

Kedua, mengenai keberatan dan gelombang protes serta demonstrasi. Para penonton tidak membuka ruang obyektif bahwa Sukarno memiliki bagian lain dari kehidupan sosialnya yaitukehidupan pribadinya yang dikatakan Goffman, sehingga ketika muncul beberapa adegan seperti “Sukarno kencing di penjara”, “Sukarno terpikat dan melakukan pendekatan terhadap Fatmawati”, itulah bagian dari kehidupan keseharian yang alamiah dari Sukarno.

Ketiga, mengenai keislaman Sukarno. Dalam film karya Hanung menyebarkan gagasan Liberal dan mendistorsi keislaman Sukarno. Figur Sukarno yang disajikan Hanung Bramantyo sangat Islami dengan dikedepankan sikap tubuh ibadah sholat dan mengajar di sekolah Muhamadiyah di Bengkulu. Tanpa bermaksud mengecilkan kualitas keislaman Sukarno, namun beliau bukan tokoh yang mengusung prinsip-prinsip religius dalam ranah politik. Bahkan ayah Sukarno, Raden Soekemi adalah juga penganut ajaran Teosofi yang berkembang tahun 1930-an di Hindia Belanda dan banyak anggota Partai Nasional Indonesia (PNI) yang pernah didirikan Sukarno, masuk menjadi anggota Teosofi.

Keempat, film ini bukan hanya mengedepankan aspek historis dan ketokohan Sukarno bersama teman-teman seperjuangannya, namun memperlihatkan sebuah sisi lain dari kehidupan seorang wanita yang melakukan dukungan bagi perjuangan Sukarno sekaligus pengorbanan, yaitu Inggit Garnasih. Dalam film tersebut ditayangkan penggalan peran Inggit Garnasih yang mendukung Sukarno saat berada di penjara Banceuy, Bandung, saat Sukarno berada di pengasingan baik di Ende, Flores maupun Bengkulu. Bahkan Inggit Garnasih memberikan hartanya untuk mendukung perjuangan politik Sukarno. Pengorbanan Inggit ini dibahasakan oleh Hanung dalam kalimat penutup film, “Berjuang untuk kemenangan sendiri adalah kekalahan sejati”.

Film Soekarno: Indonesia Merdeka, merupakan film bermutu yang layak ditonton oleh generasi muda yang telah kehilangan jiwa Patriotisme dan Nasionalisme, untuk menemukan jiwazaman lampau untuk diterjemahkan dalam konteks kekinian. Jika generasi muda gagal membangun mentalitas patriotik dan melakukan perubahan, maka mereka akan menjadi generasi gagal.

Mengancam Kenangan, Seluruh Mahluk, Manusia Dan Benda.

Pada hari Kamis, 8 Oktober 2015 bertempat di Gedung Pusat lantai 7 Universitas PGRI Semarang, Teater Tikar menghadirkan sebuah pementasan teater yang berjudul “Mengancam Kenangan” karya Iruka Danishwara dan Sutradara Ibrahim Bhra dengan para pemeran yaitu Iruka Danishwara, Solekhah Nur H W, Reza Akbar P, Elina Zahra Y, Imam Machfudz, dan Siti Maghfiroh.
Naskah “Mengancam Kenangan”, karya Iruka Danishwara (anggota Teater Tikar) merupakan tafsiran atau representasi kejemuan siapapun dalam menyikapi kenangan. Karena yang memiliki kenangan bukan hanya manusia, tapi seluruh makhluk bahkan benda atau apa dan siapapun berhak memiliki kenangan. Naskah “Mengancam Kenangan” merupakan tumpukan dan benturan antara kenangan satu dengan lainnya, yang berintegrasi, saling melilit. “Mengancam Kenangan” meminta untuk diurai, ditarik satu per satu ‘lilitan’ kenangan tersebut agar kita memosisikan kenangan secara tepat. Akhirnya kita bisa menyikapi kenangan secara bijak. Jika berdamai atau melawan kenangan merupakan sebuah kekonyolan, maka mengancam kenangan menjadi alternatif, karena mengatur kenanganpun sangat tidak memungkinkan.
Naskah “Mengancam Kenangan” memang tidak memberi ruang kita untuk rehat berpikir serta sejenak mendiamkan perasaan. Tumpukannya terlampau padat. Bakal melelahkan pemain (juga penonton) jika nuansa melankolis tidak dibarengi dengan suasana yang bermacam. Eksplorasi gerak, nada dialog, ilustrasi serta setting menjadi keharusan. Dengan setidaknya lima pemeran, interpretasi kenangan serta penyikapannya.

Kenangan sepertinya bersekutu dengan pagi, tapi tidak mengusik, tidak juga berisik.
Bermula dari suatu pagi dengan seorang Nyonya yang menggengam gagang sapu untuk menyapu kerikil-kerikil dari ubin teras rumahnya. Terdengar suara bisikan dari empat pemeran yang memakai kostum seperti jubah, menggambarkan diri sebagai pagi yang berisik. Pada pagi hari itu mereka berisik untuk mencari perhatian Nyonya. Mereka terus menanyakan mengapa Nyonya setiap hari harus menyapu terasnya dan besok pagi sudah kotor lagi. Setiap pagi setelah selesai dengan sapu dan debu-debu di terasnya, Nyonya selalu mengusap empat piguranya yang berdebu dengan satu persatu. Seperti sudah menjadi rutinitasnya, Nyonya setiap pagi menangisi empat pigura yang terpasang di dinding rumahnya.


Biarkan saja rindu ini menggunung, lalu kau dapat mendakinya hingga awan dan meretaskan hujan keresahan.
Pertunjukan selanjutnya memakai properti bak mandi. Tokoh pria mencari-cari tokoh wanita dan mulai gelisah karena sang tokoh wanita tidak ada di dalam bak mandi. Tokoh pria mulai bercakap dengan tokoh wanita, tetapi ternyata pria hanya berbincang dengan bayangan hitam sang wanita di dalam air. Bayangan sang wanita tertinggal di dalam bak mandi dengan aroma yang masih saja sama membuat tokoh pria mengira wanita itu berada di dalam bak mandi. Ternyata pria itu terlalu merindukan sosok wanita hingga ia bercita-cita untuk bisa mendakinya, menyentuh awan dan mengatakan pada mereka agar meretaskan hujan yang membawa keresahannya. Sang pria harus menenggelamkan cerita-cerita tentang sang wanita di dalam bak mandi dan mengganti airnya agar cerita tentang sang wanita dan aroma tubuhnya turut terbuang. Kemudian ia mengikuti apa yang dikatakan wanita itu yaitu dengan membuang air yang mulai keruh agar tidak ada lagi aroma, tidak ada cerita-cerita, menyingkirkan semua bayangan dan juga ancaman.

Sembunyikanlah sedalam yang kau bisa. Tutupilah serapat yang kau mampu. Namun, kenangan tetap hadir, di manapun kau berada.
Setiap pagi dan siang Nyonya selalu mengusap keempat piguranya tetapi kini ia tergeletak lemah, mata yang basah setiap pagi dan siang kini rapat terpejam. Nyonya tidak pernah tau bagaimana wujudnya, tetapi nyonya menghadirkannya di keempat pigura dan melukisnya di dinding-dinding rumah. Nyonya selalu mengharapkan bayangan itu hadir setiap pagi. Ketika malam tiba, Nyonya hanya berbincang-bincang dengan dinding. Kemudian dinding-dinding itu bertanya kepada Nyonya, mengapa nyonya tidak pernah tahu bagaimana menghentikan apa saja yang datang?. Menurut sang Nyonya, mengapa harus di hentikan, bukankah sikap yang paling baik hanya menerima saja?. Akan tetapi, sang Nyonya hanya membiarkan itu semua terjadi, bukan menerima sesuatu yang ada di hadapannya.

Kepada bulan dan mentari yang kucinta, aku akan memberimu doa setiap pagi dan malam, kau memberi aku lupa atas kenangan.
Nyonya dan anak laki-lakinya mulai berbincang, membicarakan perihal Ayah yang telah lama pergi meninggalkannya entah kemana. Sang Nyonya tidak mau menceritakan kepada anaknya perihal kemana Ayah yang bersayap emas itu pergi. Tetapi anak laki-laki itu tidak ingin tahu dimana Ayahnya, dia hanya ingin cerita-cerita dari Ibu tentang Ayahnya. Namun, Nyonya tetap menolak untuk menceritakan kepada anak laki-laki perihal Ayahnya. Kemudian anak laki-laki meminta Nyonya untuk menceritakan sebuah dongeng. Namun dongeng yang di inginkan oleh anaknya semua berhubungan dengan nasib hidup Nyonya yang kelam.
Pada bagian ini, pemeran Nyonya menyampaikan sebuah dialog dengan cara bernyanyi. Suara yang merdu tanpa alunan musik, hanya mengandalkan alunan suara dari mulutnya yang mampu menarik dan mencuri perhatian penonton, dibarengi dengan mimik wajah yang sangat menghayati dialog tersebut.
Setiap pagi Nyonya menyapu teras rumahnya, akan tetapi pada pagi itu Nyonya enggan menyapu teras rumahnya dan memilik menyingkirkan tiga pigura yang berjajar di ruang tamunya. Nyonya ingin semua debu-debu yang mengetahui kenangannya berterbangan dan menyingkir. Lalu, Nyonya teringat sesuatu hal dan ternyata Nyonya ingin menangkap dan membawa anknya pergi, agar tidak menghilang seperti Ayahnya. Kemudian, dua orang berbisik kepada sang Nyonya agar melepaskan anak lelaki itu yang kelak ia akan menjadi seperti Ayahnya yang pergi entah kemana bersama sayap emasnya. Ternyata tanpa dilepaskan, tangan sang Nyonya bergetar dan melepaskan dengan sendirinya, hingga akkhirnya anak lelaki itu pergi entah kemana.

Ketika harapan itu sudah tidak ada, sudah pupus sepenuhnya, maka aku memilih kenangan.
Pada bagian ini, anak laki-lakinya Nyonya yang terus meminta untuk diceritakan tentang Ayahnya. Namun, untuk berbicara saja Nyonya mengalami kesulitan, apalagi harus bercerita tentang Ayahnya. Kemudian kenangan itu hadir kembali diingatan Nyonya, setelah anak laki-lakinya lelah mencari dan mengeruk cerita dari bibir Nyonya tentang dimana Ayah dan sayap emasnya, lalu Ia lebih baik memilih untuk pergi meninggalkannya lagi. Ia menjadi seperti orang yang menyerah  sebelum berperang dan sudah putus asa atas segala keputus-asaan yang ada dalam dirinya.  

Saling mengenang, saling mengancam. Saling silang.
Pada bagian ini, Nyonya mengingat kenangan masa lalunya yaitu tentang anak laki-laki dan suaminya yang meninggalkan rumah dan membuat Nyonya hidup sebatang kara. Raut wajah Nyonya yang bahagia dan kecewa silih berganti.  Nyonya selalu menunggu anaknya datang dan hanya Ia yang dapat menghentikannya. Debu-debu di dinding mencoba mengingatkan Nyonya bahwa ada yang bisa menghentikan ini semua, tetapi Nyonya kokoh dengan pendiriannya bahwa tidak ada yang bisa menghentikan. Semua pemeran dapat memerankan karakter mereka dengan sangat menarik, membuat semua penonton tercengang dan ikut larut dalam cerita yang mereka bawakan.

Sembunyikanlah sedalam yang kau bisa. Tutupilah serapat yang kau mampu. Namun, aku tetap hadir, di manapun kau berada.
Di dalam menghabiskan sisa masa hidup, Nyonya hanya bisa menunggu dan menunggu kehadiran anak lelakinya dengan mengusap pigura yang berisi gambar wajah anak lelaki yang tersenyum bahagia, akan tetapi anak lelaki tak kunjung menemuinya. Nyonya hanya bisa tenggelam dalam kenangan bersama anak lelakinya dan membuat Nyonya terpuruk di dalam sisa masa hidupnya. Sebuah kenangan sudah mengancam dan membayangi seluruh sisa masa hidup Nyonya, membuat sebuah kenangan menjadi bersifat abadi dan kenangan tidak akan pernah terkubur di dalam hidupnya.

Yang memancing kenangan itu tetap hadir adalah indera dan rasa.
Pada bagian ini, Nyonya tidak pernah tau bagaimana cara memusnahkan kenangan, karena kenangan itu datang melalui indera, lewat visualisasi, suara, dan sentuhan bersama rasa yang bahagia, marah, dan sedih. Kenangan akan semakin menumpuk di sepanjang masa hidup, dan kenangan tak akan ada habisnya. Seorang tokoh mengatakan kepada Nyonya bahwa sesuatu yang bermula pasti ada akhirnya, akan tetapi Nyonya sangat yakin bahwa sebuah kenangan tidak akan pernah berakhir.

Dan mungkin yang kekal di dunia ini selain Tuhan, hanyalah kenangan…
Memasuki akhir cerita, penonton dibuat bertanya-tanya dengan apa yang terjadi pada akhir cerita Mengancam Kenangan ini. Pada cerita ini, Mengancam Kenangan menggunakan alur mundur yang dapat kita ketahui dari penyampaian cerita yang mengulang tentang masa lalunya. Cerita yang menggunakan alur mundur, tidak mudah dipahami dan tidak mudah ditebak jalan ceritanya. Semua pemeran memerankan dengan sangat menakjubkan, di dukung dengan audio, dan properti yang menarik.
Mengancam Kenangan memberikan gambaran dan pelajaran kepada penonton betapa sulitnya melupakan dan menghilangkan kenangan di masa lalu. Setiap manusia mempunyai masalah dengan kenangannya, akan tetapi semua tergantung dari diri sendiri apakah kita mampu berdamai dengan kenangan dan menempatkan kenangan tersebut sebagai pelajaran, atau kita memilih untuk gagal berdamai dengan kenangan dan terpuruk dalam hidupnya. Kita semua harus menjadikan sebuah kenangan sebagai pembelajaran di masa yang akan datang.