Senin, 25 Januari 2016

Soekarno : Indonesia Merdeka.

Film terbaru Hanung Bramantyo berjudul Soekarno: Indonesia Meredeka yang dibuat pada tahun 2013, kembali membuat kontroversi dan mendapatkan sambutan dari penikmat film. Film ini mampu menguras emosi patriotisme dan kebangsaan sehingga membuat penontonmenangis haru mengikuti alur kisah dan emosional yang di sutradarai oleh Hanung.

Film ini menuai kontroversi di sana sini. Contohnya adegan Sukarno merangkul Fatmawati yang seperti perilaku yang kurang sopan karena Sukarno sudah mempunyai seorang istri, lalu mengenai kebiasaan kencing Sukarno di penjara. Film ini menunjukkan seolah Sukarno seorang playboy diantara dua wanita.

Film terbaru karya Hanung Bramantyo dengan judul, Soekarno: Indonesia Merdeka, mengisahkan dengan ringkas dan cerdas tentang kisah kehidupan Sukarno Sang Proklamator. 

Beberapa ulasan akan saya sampaikan mengenai karya film Hanung Bramantyo yang berjudul Soekarno:

Pertama, mengenai alur tokoh Sukarno, Hanung Bramantyo telah memaparkan dengan baik dalam bahasa film seorang Sukarno sebagai seorang pemimpin nasional menuju Indonesia merdeka, Sukarno sebagai seorang suami serta Sukarno sebagai seorang lelaki dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Pada karya film Hanung Bramantyo yang berjudul Soekarno:Indonesia Merdeka, mengetengahkan sosok historis Sukarno di kehidupan sosial sebagai seorang pemimpin pergerakkan menuju kemerdekaan Indonesia. Seluruh gambaran yang ditampilkan sebagai seorang tokoh diidealisir sehingga menampilkan kesempurnaan sikap dan pikiran serta perilaku. 

Namun demikian, Hanung tidak hanya menampilkan sosok historis Sukarno, melainkan menampilkan Sosok Sukarno dalam karakter Sukarno kecil saat masuk sekolah di HBS dan mencintai apa adanya seorang gadis Belanda, saat Sukarno hidup di penjara dan buang air kecil di penjara dalam sebuah wadah dan membuangnya di luar pintu penjara, saat Sukarno terpikat hatinya pada Fatmawati dan berusaha memperoleh perhatian dalam banyak kesempatan, saat Sukarno tersenyum bahagia dikunjungi Gatot yaitu temannya dan memberikan komentar tentang Fatmawati dan anaknya, “Jujur, aku tidak bisa memungkiri hati kecilku kalau aku butuh anak!

Dengan demikian, karya film Hanung menyajikan tokoh Sukarno secara lengkap. Di sinilah letak kekuatan film Hanung yang bagi saya dapat menyentak emosi kejiwaan sekaligus menorehkan kesan mendalam dalam momen-moment penting yang disajikan sehingga membangkitkan jiwa patriotisme dan nasionalisme. 

Kedua, mengenai keberatan dan gelombang protes serta demonstrasi. Para penonton tidak membuka ruang obyektif bahwa Sukarno memiliki bagian lain dari kehidupan sosialnya yaitukehidupan pribadinya yang dikatakan Goffman, sehingga ketika muncul beberapa adegan seperti “Sukarno kencing di penjara”, “Sukarno terpikat dan melakukan pendekatan terhadap Fatmawati”, itulah bagian dari kehidupan keseharian yang alamiah dari Sukarno.

Ketiga, mengenai keislaman Sukarno. Dalam film karya Hanung menyebarkan gagasan Liberal dan mendistorsi keislaman Sukarno. Figur Sukarno yang disajikan Hanung Bramantyo sangat Islami dengan dikedepankan sikap tubuh ibadah sholat dan mengajar di sekolah Muhamadiyah di Bengkulu. Tanpa bermaksud mengecilkan kualitas keislaman Sukarno, namun beliau bukan tokoh yang mengusung prinsip-prinsip religius dalam ranah politik. Bahkan ayah Sukarno, Raden Soekemi adalah juga penganut ajaran Teosofi yang berkembang tahun 1930-an di Hindia Belanda dan banyak anggota Partai Nasional Indonesia (PNI) yang pernah didirikan Sukarno, masuk menjadi anggota Teosofi.

Keempat, film ini bukan hanya mengedepankan aspek historis dan ketokohan Sukarno bersama teman-teman seperjuangannya, namun memperlihatkan sebuah sisi lain dari kehidupan seorang wanita yang melakukan dukungan bagi perjuangan Sukarno sekaligus pengorbanan, yaitu Inggit Garnasih. Dalam film tersebut ditayangkan penggalan peran Inggit Garnasih yang mendukung Sukarno saat berada di penjara Banceuy, Bandung, saat Sukarno berada di pengasingan baik di Ende, Flores maupun Bengkulu. Bahkan Inggit Garnasih memberikan hartanya untuk mendukung perjuangan politik Sukarno. Pengorbanan Inggit ini dibahasakan oleh Hanung dalam kalimat penutup film, “Berjuang untuk kemenangan sendiri adalah kekalahan sejati”.

Film Soekarno: Indonesia Merdeka, merupakan film bermutu yang layak ditonton oleh generasi muda yang telah kehilangan jiwa Patriotisme dan Nasionalisme, untuk menemukan jiwazaman lampau untuk diterjemahkan dalam konteks kekinian. Jika generasi muda gagal membangun mentalitas patriotik dan melakukan perubahan, maka mereka akan menjadi generasi gagal.

0 komentar:

Posting Komentar