Minggu, 23 September 2018

Perjalanan Hidup

           Nama saya  Dhini Huda Chasanati. Lahir di Demak, 25 September 1996. Saya, anak kedua dari tiga bersaudara. Ayah saya bernama Mohamad Farichin dan Ibu saya bernama Rusmini. Ayah saya bekerja sebagai Kepala SMP Negeri 1 Sayung, Kabupaten Demak. Ibu saya bekerja sebagai wirausaha yaitu menjual baju di Pasar Bintoro Demak. Saya memiliki kakak laki-laki bernama Husni Nadya Hanif dan sekarang sudah bekerja di Gmedia, Semarang. Selain itu, saya juga memiliki adik laki-laki bernama Muhammad Hakim Azkaghani. Adik saya sekarang melanjutkan pendidikannya sama seperti saya yaitu di Universitas PGRI Semarang. Namun, jurusan yang kami pilih berbeda, adik saya memilih jurusan Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi. Saya tinggal di Setinggil, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak.
Pada saat umur 5 tahum saya masuk di Taman Kanak-kanak Pamekar Budi. Setelah itu, pada umur 7 tahun, saya meneruskan pendidikan di jenjang Sekolah Dasar di SD Negeri Bintoro 5 Demak pada tahun 2003, yang berada di kelurahan Bintoro Demak. Di SD Negeri Bintoro 5 Demak saya mengikuti drumband saat kelas IV-VI dengan memegang pianika. Kegiatan tersebut dilaksanakan untuk memeriahkan acara seperti Hari Anak-Anak Nasional, Hari Kemerdekaan Indonesia, Kirab Budaya dan lain sebagainya. Selanjutnya, saya selesai menempuh pendidikan di jenjang SD selama 6 tahun dan pada tahun ajaran 2008/2009 saya lulus dan mendapatkan ijazah Sekolah Dasar.
Kemudian, saya melanjutkan pendidikan saya ke jenjang selanjutnya yaitu Sekolah Menengah Pertama. Saya bersekolah di SMP  Negeri 2 Demak, yang berada di tengah kota, tepatnya berjarak ±1 Km dari rumah saya. Di SMP Negeri 2 Demak, saya pernah mengikuti ekstrakulikuler PMR dari kelas VII sampai kelas IX. Saya menimba ilmu selama 3 tahun lamanya. Pada tahun ajaran 2011/2012 saya menyelesaikan pendidikan di SMP Negeri 2 Demak dan saya mendapatkan ijazah SMP.
Kemudian di lanjutkan kejenjang berikutnya yaitu Sekolah Menengah Aatas. Saya bersekolah di SMA Negeri 1 Demak. Di SMA Negeri 1 Demak pada saat kelas X belum terbagi kelas dengan jurusan IPA ataupun IPS, pada kelas X saya mempelajari mata pelajaran IPA dan IPS. Akan tetapi nilai pada saat kelas X mempengaruhi jurusan yang akan saya dapatkan di kelas XI. Alhamdulillah pada saat kelas XI saya masuk dalam jurusan IPA.
Di SMA Negeri 1 Demak saya mengikuti ekstrakulikuler PMR dan Paskibra. Pada ekstrakulikuler PMR saya hanya mengikuti kegiatan pada kelas X dan saya mengikuti kegiatan ekstrakulikuler Paskibra dari kelas X sampai kelas XII. Pada saat mengikuti ektrakulikuler Paskibra, saya termasuk dalam angkatan XVIII, karena ekstrakulikuler ini berdiri sejak 1 September 1997. Meskipun sekarang saya sudah lulus dari SMA Negeri 1 Demak akan tetapi komunikasi antar angkatan Paskibra masih berjalan sampai sekarang. Apabila ada kegiatan seperti Pendidikan Latihan Dasar atau Pendidikan Latihan Khusus alumni selalu diundang untuk datang ke acara tersebut. Alumni datang ke acara tersebut untuk ikut serta dalam membantu kegiatan dan menjalin silaturahmi antar angkatan satu dengan yang lainnya.
Kegiatan dalam Paskibra bukan hanya Pendidikan Latihan Dasar dan Pendidikan Latihan Khusus, akan tetapi ada berbagai lomba-lomba yang diikuti antara lain  lomba baris berbaris dan variasi antar kabupaten ataupun antar kota. Di ekstrakulikuler ini juga ada pemilihan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka di tingkat Kabupaten ataupun Provinsi. Saya pernah mengikuti lomba baris berbaris antar Kabupaten Demak dan mendapatkan juara 3. Pada ekstrakulikuler Paskibra, saya mendapatkan banyak ilmu seperti kedisiplinan, kepemimpinan, keberanian untuk mengambil keputusan dan belajar bertanggung jawab.
Di SMA Negeri 1 Demak, saya dibentuk menjadi seorang peserta didik yang diharapkan mampu memimpin dan memiliki pengetahuan yang dapat menjadi bekal bagi saya nantinya. Di SMA Negeri 1 Demak saya mendapatkan banyak manfaat seperti perubahan sikap menjadi seorang yang rajin, disiplin, dan berani. Saya menuntut ilmu dan menyelesaikan pendidikan selama 3 tahun di SMA Negeri 1 Demak, lulus pada tahun ajaran 2014/2015, dan mendapatkan ijazah SMA.
Setelah lulus dari SMA, saya melanjutkan pendidikan saya di perguruan tinggi Universitas PGRI Semarang dengan jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Di Universitas PGRI Semarang saya mulai belajar pada tahun ajaran 2015/2016 artinya saya sekarang sudah berada pada semester yang tidak muda lagi, dapat dikatakan sudah sepuh dan memasuki puncak perkuliahan yaitu semester 7. Selain kegiatan perkuliahan, saya juga mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Koperasi Mahasiswa Dewantara. Saya mengikuti UKM tersebut dari semester 1 hingga sekarang semester 7. Saya bertahan mengikuti UKM ini dari awal saya masuk perkuliahan hingga sekarang karena saya merasakan kekeluarga yang sangat erat, mencari ilmu serta melatih jiwa kewirausahaan saya dan komitmen saya untuk terus mengabdi ke Kopma Dewantara.
Di Kopma Dewantara, saya memilih di bidang usaha. Awal masuk ke Kopma Dewantara masih menjadi staff usaha sampai semester 5. Pada pertengahan semester 5, saya diberikan amanah untuk menjadi Ketua Bidang Usaha (Kabid Usaha). Bidang Usaha ialah bidang yang mengelola toko Kopma Dewantara yang bernama D’Mart. Segala transaksi yang dilakukan di toko D’Mart seperti penjualan, pembelian barang, membayarkan listrik hingga menabung di bank, akan direkap dan dibuat laporan oleh bidang usaha. Selain kegiatan tersebut, bidang usaha juga melakukan kegiatan seperti bidang yang lainnya. Kegiatan yang dilakukan ialah membuka stand foto dan berjualan saat ada acara wisuda, marketing challenge, jualan takjil, bagi-bagi takjil, kerja sama dengan hima dan bem fakultas saat kegiatan poema, serta kegiatan yang lainnya.
Selain saya mengikuti UKM untuk mencari pengalaman berwirausaha. Saya juga mendaftarkan diri mengikuti Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pengembangan Masyarakat (KKNPPM). Kegiatan tersebut dilakukan saat libur semester 7 yaitu pada saat Magang 3 sekaligus dengan KKN. Untuk terpilih menjadi peserta KKNPPM harus mendaftarkan diri terlebih dahulu dan bersaing dengan seluruh mahasiswa seangkatan dengan saya. Saya terpilih untuk mengikuti kegiatan KKNPPM di Desa Tambaksari, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal dengan tema Pemindangan dan Pengasapan di desa tersebut. Potensi yang dimiliki oleh Desa Tambaksari sangatlah tinggi. Di desa tersebut terkenal dengan nama Desa Minapolitan yang bermakna desa dengan potensi perikanan seperti tambak lele, pemindangan, pengasapan serta pertanian. Saya mengikuti kegiatan KKNPPM selama hampir 2 bulan. Setelah mengikuti KKNPPM, saya memiliki target untuk lulus tepat waktu yaitu 3,5 tahun pada bulan Mei 2019 dengan IPK cumlaude.

Minggu, 25 Desember 2016

Hebatnya Netizen Indonesia

      Saya menanggapi Opini di Tribun Jateng, yang dibuat oleh Firstya Evi Dianastiti dengan judul Viral Telolet dan Ampuhnya Netizen Indonesia. Slogan “Om Telolet Om” saat ini menjadi viral. Terbukti diberbagai media sosial, surat kabar, hingga tayangan televisi, ramai membicarakan mengenai “Om Telolet Om”.
Netizen Indonesia mempunyai pengaruh yang besar dalam media sosial. Bahkan pada tanggal 21 Desember, tagar “Om Telolet Om” menduduki trending topic di Twitter Indonesia maupun dunia. Saat ini slogan “Om Telolet Om” bahkan sampai ke dunia seperti Korea dan New York. Warga dunia pun dibuat penasaran, hingga dalam situs pencarian Google “What is Om Telolet Om” menduduki urutan paling awal.
Artis luar negeri bahkan sampai membuat Twit mengenai “Om Telolet Om” seperti Dillon Francis, Zedd, Showtek dan DJ Snake. Hingga Twit yang bertanya mengenai apa itu “Om Telolet Om” yang ditulis oleh Bassjackers, Vinai, The Chainsmokers dan Martin Garrix. Terbukti betapa besar pengaruh netizen Indonesia terhadap dunia.
Berawal dari maraknya bus Indonesia dengan berbagai macam warna dan bentuk yang menarik, membuat daya tarik tersendiri bagi para pecinta bus. Bukan hanya penampilan luar, bus di Indonesia juga mempunyai kekhasan tersendiri. Sekarang ini, sopir bus memodifikasi kendaraannya dengan klakson yang memiliki berbagai variasi bunyi klakson.
Akhir-akhir ini banyak sekali bunyi klason bus yang sering terdengar seperti bunyi telolet. Bunyi klakson tersebut menarik perhatian bocah-bocah yang mendengarnya. Bocah-bocah yang bergerombol, rela menunggu bus lewat di pinggir jalan raya. Kebanyakan, bocah-bocah menunggu bus yang lewat setelah mereka pulang dari sekolah.
Bukan hanya bocah-bocah, remaja hingga dewasa pun juga tertarik dengan bunyi klakson bus telolet. Sekarang ini banyak dijumpai dari bocah hingga orang dewasa menunggu di pinggir jalan secara beramai-ramai dan bergerombol. Mereka rela menunggu bus lewat dengan klakson telolet. Banyak sekali dijumpai ketika sore hari, ketika mengisi waktu luang, orang tua berserta anaknya menunggu bus lewat di pinggir jalan. Bunyi klakson bus menjadi hiburan orang tua beserta anaknya ketika mengisi waktu luang.  
Biasanya bocah-bocah hingga orang dewasa membawa kertas yang bertuliskan “Om Telolet Om” yang diharapkan sopir bus mengetahui keberadaannya. Tidak jarang, mereka juga memberikan jempol, lambaian tangan hingga teriakan “Om Telolet Om” agar sopir bus mengetahuinya. Ketika menunggu bus lewat, mereka juga menggunakan telepon genggam untuk merekam video hasil buruan telolet. Setelah mendapatkan video hasil buruan, mereka menggunggahnya ke media social seperti Facebook, Instagram hingga Youtube, dan lain sebagainya.
Ketika sopir bus membunyikan klaksonnya, terdengarlah bunyi seperti telolet telolet yang akhirnya membuat hiburan tersendiri bagi yang menanti-nantikannya. Mereka kegirangan hingga tertawa terbahak-bahak apabila mereka mendapatkan bunyi klakson dari bus lewat yang mereka tunggu-tunggu. Ada juga yang menari-nari ketika mendengar bunyi klakson telolet.
Ketika bus lewat, mereka bersiap menggeluarkan slogan “Om Telolet Om” namun, tidak jarang ada juga bus yang mengeluarkan bunyi klakson bus bukan bunyi telolet yang mereka inginkan. Bunyi klakson yang keluar malah bunyi klakson bus biasa. Terdapat kekecewaan dalam raut wajah mereka apabila tidak mendapatkan bunyi klakson telolet. Mereka tidak pantang menyerah, mereka tetap menunggu bus yang lewat dengan klakson telolet.
Dengan hebohnya “Om Telolet Om” di Indonesia, ternyata banyak juga masyarakat di luar negeri yang mengikuti aksi mencari telolet. Namun di sana tidak hanya bus saja, melainkan truk juga mempunyai bunyi seperti telolet. Di luar negeri juga menggunakan cara yang sama, mereka membawa telepon genggam dan merekamnya. Mereka juga berteriak “Om Telolet Om” menggunakan bahasa Indonesia.
Semakin terkenalnya “Om Telolet Om” sekarang ini dijumpai juga klakson yang lebih menarik lagi, yaitu klakson yang berbunyi lagu seperti lagu kolam susu, satu-satu, anak gembala, satu-satu, sholawat, naik delman, ondel-ondel, tukang bakso, unyil-unyil usro, dan lain sebagainya. Semakin kreatif dan bervariasi bunyi klakson untuk menarik perhatian masyarakat Indonesia.    
Kejadian ini saya temukan sendiri ketika saya melakukan perjalanan pulang ke rumah dari Semarang menuju ke Demak. Mulai libur sekolah, saya melihat bocah-bocah menunggu bus lewat di pinggir jalan raya, ada juga yang menunggu di trotoar perbatasan dua jalur. Mereka rela menunggu bus yang lewat untuk memberikan klakson telolet. Namun, ada juga bus yang melewati mereka namun tidak memberikan klaksonnya.
Bunyi klakson telolet menurut saya selain memberikan hiburan bagi masyarakat Indonesia yang menyukainya, terdapat juga sisi negatif bagi masyarakat yang tidak menyukainya. Bahkan bunyi klakson telolet juga dapat mengganggu pengendara yang lainnya apabila mendengar kebisingan suara tersebut. Selain itu, dapat membahayakan juga bagi penderita serangan jantung. Bunyi klakson telolet sangat keras dan tidak terduga bunyi tersebut. Penderita serangan jantung bisa saja terkejut dengan bunyi klakson telolet.
Diharapkan dengan viralnya “Om Telolet Om” diharapkan mendatangkan sisi positif bagi masyarakat sebagai hiburan dan kekuatan pemersatu netizen Indonesia. Netizen Indonesia diharapkan dapat memberikan hal-hal yang bermanfaat dan menghibur dalam media sosial. Selain itu, sebagai pemersatu antar daerah satu sama lain tanpa membedakan ras, suku, dan agama.

--Dhini Huda Chasanati, Mahasiswa Universitas PGRI Semarang.

Hidup Sastra, UPGRIS Bersastra!

           Betapa pentingnya melestarikan dan mengembangkan sastra. Pada hari Rabu, 19 Oktober 2016 Universitas PGRI Semarang mengadakan kegiatan yang bernama UPGRIS Bersastra! Kegiatan diadakan di Balairung Universitas PGRI Semarang, pukul 08.00 WIB. Mengadakan kegiatan tersebut guna memeriahkan serangkaian acara pada bulan Oktober ini, ialah Bulan Bahasa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Semarang. Dalam kegiatan ini terdapat berbagai macam seni yang ditampilkan. Mulai dari seni tari, seni musik dan pastinya mengenai sastra yaitu pembacaan puisi.

Serangkaian acara dalam UPGRIS Bersastra yang paling utama ialah mengenai Lounching Gebyar Bulan Bahasa yang membedah mengenai 3 Buku, 3 Pembaca, 3 Kritikus dan 1 Pengarang. 3 buku tersebut karya dari Triyanto Triwikromo. Judul buku tersebut ialah Bersepeda Ke Neraka, Selir Musim Panas dan Sesat Pikir Para Binatang. Acara tersebut menghadirkan langsung pengarang buku yaitu Triyanto Triwikromo. Dalam acara tersebut, Rektor beserta jajarannya menghadiri acara tersebut guna memeriahkan serangkaian Bulan Bahasa, Universitas PGRI Semarang.

Acara UPGRIS Bersastra tidak hanya menghadirkan Triyanto Triwikromo sebagai bintang tamu utama, melainkan dalam acara UPGRIS Bersastra juga menghadirkan tiga kritikus yaitu Dr. Nur Hidayat, Drs. S. Prasetyo Utomo, M.Pd dan Widyanuari EKo Putro, S.Pd. Dalam acara tersebut dipimpin oleh host yang bernama Dr. Harjito. Host yang memimpin acara inti UPGRIS Bersastra merupakan seorang penyair. Akan tetapi beliau meninggalkan pekerjaaan sebagai seorang penyair dan memilih menjadi pengarang buku.

Diawal acara memberikan hiburan dari grup musik yang terdiri dari 3 orang, nama grup musik tersebut ialah Biscuittime. Semua lagu yang dinyanyikan berasal dari puisi-puisi yang kemudian dinyanyikan hingga menjadi musikalisasi puisi. Biscuittime hanya menyanyikan kumpulan puisi-puisi, berbeda dengar grup musik yang lainnya. Biscuittime juga menyanyikan musikalisasi puisi dari hasil puisi karya mereka sendiri. Pada acara UPGRIS Bersastra, Biscuittime menampilkan musikalisasi puisi hasil karya dari Triyanto Triwikromo. Suaranya sangat merdua dan lantunan gitar yang menemani pun sangat menyentuh di hati para penonton.

Pembacaan puisi dibacakan oleh Rektor Universitas PGRI Semarang ialah Dr. Muhdi, S.H. M.Hum dan Wakil Rektor Dra. Sri Suciati, M.Hum. Selain membacakan puisi karya Triyanto Triwikromo, Rektor Universitas PGRI Semarang juga menampilkan penampilannya yaitu menyanyi sambil memainkan gitar. Akan tetapi, Rektor merasa malu dan tidak yakin menampilkan menyanyi sambil memainkan gitar. Sebab beliau tidak mempunyai jiwa seni di dalam darahnya. Dengan rasa yakin, akhirnya beliau menampilkan untuk menyanyi sambil bergitar. Disela-sela menyanyi, beliau juga tertawa dengan apa yang beliau lantunkan. Namun beliau tetap menampilkan yang terbaik untuk para hadirin yang telah datang, terutama untuk Triyanto Triwikromo. Beliau menyanyikan lagu ciptaannya sendiri ketika di masa mudanya. Lagu tersebut dilatar belakangi untuk menyindir orang-orang yang suka mabuk-mabukan.

Selain Rektor Universitas PGRI Semarang, Wakil Rektor Dra. Sri Suciati, M.Hum juga menampilkan hiburan berupa nembang jawa dan pembacaan puisi. Ketika menembang jawa, Dra. Sri Suciati, M.Hum tidak sendiri, ia ditemani oleh mahasiswi semester satu jurusan Bahasa Inggris. Suara beliau dan mahasiswi saat menembang sangat merdu, hingga membuat bulu kuduk menjadi merinding dengan apa yang dilantunkan beliau. Suasana di Balairung menjadi riuh akan tepuk tangan dari penonton yang mendengarkannya. Ketika membacakan puisi, Dra. Sri Suciati sangat menghayati puisi yang dibacanya. Dengan intonasi dan pelafalan pembacaan puisi sangat jelas, hingga pesan dalam puisi dapat tersampaikan ke penonton.

Dalam pembedahan buku Triyanto Triwikromo, yang dibedah oleh tiga kritikus, terdapat hal yang menarik. Hal menarik tersebut ialah dalam pembuatan buku-buku Triyanto Triwikromo bahasa yang digunakan tidak mudah dipahami oleh orang-orang, meskipun orang yang membaca dan mempelajari sastra juga tidak begitu saja mudah memahami isi buku puisi karya Triyanto Triwikromo. Salah satu yang membacakan puisi hasil karya Triyanto Triwikromo ialah Dra. Sri Suciati juga mengatakan bahwa ia tidak mudah memahami isi puisi yang dibacakan olehnya. Harus berulang kali ia membaca agar mudah memahami isi puisi yang dibaca.

Salah satu kritikus yaitu Widyanuari EKo Putro, S.Pd menyampaikan bahwa dalam memahami satu buku Triyanto Triwikromo harus membaca empat buku sekaligus agar mudah memahaminya. Dapat disimpulkan bahwa menjadi seorang penyair tidak gampang dan bertahan untuk menjadi seorang penyair juga tidak mudah. Banyak penyair yang meninggalkan pekerjaannya itu dan lebih memilih menjadi pengarang buku atau yang lain sebagainya.

Menjadi seorang penyair harus mempunyai banyak ilmu pengetahuan dan referensi dalam menghasilkan tulisan karyanya. Triyanto Triwikromo merupakan seorang penyair yang sangat cerdas. Beliau tidak hanya menciptakan puisi-puisi saja, akan tetapi ia juga menciptakan buku yang disudah diterjemahkan dengan berbagai bahasa asing. Jadi, buku beliau tidak hanya dibaca oleh orang-orang Indonesia. Akan tetapi warga asing juga dapat membaca buku hasil karya dari Triyanto Triwikromo. Seorang penyair yang sangat membanggakan negeri karena mempunyai seorang penyair yang sangat berprestasi.

Untuk mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, seharusnya kita lebih giat mengembangkan dan belajar mengenai sastra. Sebab siapa lagi yang akan menggantikan seorang penyair-penyair di negeri ini kalau bukan yang menyukai seni atau mahasiswa-mahasiwa yang belajar seni. Triyanto Triwikromo merupakan penyair yang harus dicontoh prestasinya. Beliau merupakan penyair yang sangat hebat, semoga kita semua dapat termotivasi dan meniru atas prestasi yang ditorehkan oleh beliau. Salam sastra!

--Dhini Huda Chasanati, Mahasiswa Universitas PGRI Semarang.

Jiwa Kesenian dan Kebudayaan, Melalui Drama Cerita Rakyat

       Esai yang telah dibuat oleh Nilna Zakkiya 'Azmi dengan judul Pementasan Cerita Rakyat, menurut saya sangat menarik dan mudah dipahami oleh pembaca. Kata-kata yang ditulis pun sangat ringan untuk dibaca, tidak membuat kebingungan dan rapi dalam penulisannya. Dalam esai yang telah dibuat pun menjelaskan seluruh alur cerita dan keadaan dalam pementasan teater Jaka Tarub dan Pentas Monolog Balada Sumarah. Pembaca dibuat hanyut dalam esai yang dibuat oleh Nilna Zakkiya 'Azmi.

Pementasan yang dibuat oleh Teater Gema, Universitas PGRI Semarang sebaiknya serinh diadakan. Diharapkan dengan diadakannya pementasan teater dapat memelihara kesenian, kebudayaan, hiburan dan pengetahuan bagi penontonnya. Tidak hanya itu saja, dalam pementasan juga terdapat amanat yang disampaikan bagi para penontonnya. Memang banyak kelebihan-kelebihan dalam pementasan teater yang bertemakan cerita rakyat. Pendidikan dan penanaman moral tidak hanya dilakukan di dalam kelas saja, akan tetapi pendidikan dan penanaman moral juga dapat dikembangkan di luar kelas seperti melalui pementasan teater.

Tidak hanya mahasiswa yang dapat menyaksikan teater Jaka Tarub, akan tetapi semua kalangan seperti anak-anak, remaja, hingga orang dewasa dapat menyaksikan teater Jaka Tarub. Dalam teater juga menyuguhkan hiburan yang membuat suasana menjadi riuh oleh tawa dari penonton. Lawakan sederhana akan tetapi sangat menghibur penonton hingga terpingkal-pingkal. Tiga orang pemuda yang memiliki perut buncit dengan mengenakan baju yang memperlihatkan bentuk perutnya membuat gelak tawa penonton memenuhi isi ruangan.

Dalam pementasan Jaka Tarub, awal pertunjukan memang penonton dibuat kebingungan dengan alur cerita yang menampilkan seorang Jaka Tarub dan anaknya yang sedang duduk di teras rumah. Anak tersebut merindukan ibunya yang bernama Dewi Nawang Wulan. ang entah tak tahu di mana keberadaannya. Jaka Tarub belum menceritakan di mana ibunya berada, Jaka Tarub muram dan bingung mengingat kejadian ketika ditinggalkan oleh istrinya yang sangat ia cinta. Alur yang disajikan berupa alur campuran karena dalam cerita menceritakan akhir cerita kemudian dilanjutkan dengam awal cerita lalu berakhir dengan cerita yang disajikan di akhir cerita.

Tidak hanya menyuguhkan teater Jaka Tarub, akan tetapi juga menyuguhkan Pentas Monolog Balada Sumarah yang akan dibawa ke Kendari Sulawesi Tenggara dalam rangka Peksiminas. Seorang perempuan berperan sebagai Sumarah melakukan perannya sangat bagus dan memukau para penonton. Suaranya pun lantang dan ia dapat menirukan beberapa orang dengan intonasi nada yang berbeda-beda. Sehingga dalam perannya mudah dipahami oleh penonton ia sedang menjadi siapa dan sedang menirukan siapa. Perannya pun sangat serius dan membuat merinding dengan alur cerita yang sangat tragis dan memilukkan hingga ia menangis dengan apa yang Sumarah rasakan.

Pentas Monolog Balada Sumarah menceritakan sesorang yang bernasib tragis di negara sendiri. Cerita tersebut seperti terjadi didalam kehidupan nyata di Indonesia. Seperti tidak mendapatkan keadilan di negeri sendiri, selalu tertindas dan menjadi cemoohan di tempat yang ia tinggali. Sehingga ia memilih untuk menjadi TKW di negara lain, jauh dari tempat ia lahir yaitu di Arab Saudi.

Namun dalam bayangan Sumarah ia akan sukses dinegeri orang lain, akan tetapi semua yang ia bayangkan tidak sesuai dengan yang ia inginkan. Ia lebih tertindas di negeri orang dan merasa putus asa hingga memilih cara yang kejam dan mengenaskan yaitu dengan cara membunuh majikannya. Memang semua yang diinginkan belum tentu sesuai dengan yang diharapkan. Selalu bersyukur dan berdoa kepada Tuhan agar dimudahkan di dunia dan di akhirat.

Kita harus hidup saling rukun dan damai untuk keamanan dan ketertiban dalam hidup. Sehingga tidak terjadi pembunuhan dan hal-hal buruk yang akan menimpa kita di dunia dan akhirat. Kalaupun hidup rukun dan damai lebih indah, mengapa harus hidup dengan permusuhan dan peperangan. Sebab jika kita menanamkan dan berbuat kejahatan maka kelak kejahatan akan terus kita lakukan meskipun sekecil apapun dan mendapatkan keburukan di suatu hari kelak. Begitupula dengan kebaikan, apabila kita menanamkan kebaikan maka yang akan kita panen ialah kebaikan kita sendiri dan menguntungkan bagi kehidupan kita di masa yang akan datang.

            Semoga pementasan teater seperti ini dapat terus dilestarikan dan dijaga hingga anak cucu dapat mengetahui cerita legenda yang dari dulu dilestarikan dan dijaga. Teater juga melatih untuk mengembangkan potensi yang ada di dalam diri kita untuk menjadi seseorang yang berani dan memiliki jiwa kesenian di dalam dirinya. Bukannya menjadi seseorang yang tidak memperdulikan cerita-cerita pada jaman dahulu. Akan tetapi diharapkan tidak merusaknya dan melupakan cerita pada jaman dahulu. Sebab terdapat amanat yang harus diteladani dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari pada setiap cerita rakyat atau cerita legenda yang ada di negeri ini.


--Dhini Huda Chasanati, Mahasiswa Universitas PGRI Semarang.

Memelihara Cerita Legenda dan Membangun Kekreatifan Melalui Seni Bermain Peran

Teater Gema Universitas PGRI Semarang, kembali menyuguhkan hiburan untuk mahasiswa. Hiburan tersebut berupa pementasan Jaka Tarub dan Pentas Monolog Balada Sumarah. Pementasan diadakan pada Selasa, 4 Oktober 2016 di Gedung Pusat lantai 7, Universitas PGRI Semarang. Terdapat dua sesi pementasan yakni pementasan pada pukul 15.00 WIB dan 19.00 WIB. Mahasiswa sangat antusias untuk menyaksikan penampilan yang disuguhkan Teater Gema. Ruangan terisi penuh oleh mahasiswa-mahasiswa yang menyaksikan penampilan Teater Gema. Tidak hanya mahasiswa Universitas PGRI Semarang saja, akan tetapi dari tamu undangan yang berasal dari berbagai daerah yang telah meluangkan waktunya untuk menyaksikan Teater Gema seperti dari daerah Kudus, Solo, dan lain sebagainya.

Penampilan yang disuguhkan Teater Gema sangat memuaskan penonton, tidak hanya sebagai hiburan saja, akan tetapi juga menyuguhkan unsur pendidikan dalam pementasan tersebut. Teater Gema berhasil menarik perhatian penonton dan membuat penonton terpesona dengan penampilkan mereka. Penonton juga bersikap tertib dan sopan selama pementasan berlangsung, tidak ada penonton yang mengganggu selama pementasan berlangsung. Pemeran dalam memainkan perannya sangat bagus hingga membuat takjub dan penampilannya sangat menghibur penonton.

Tidak lupa dalam pementasan juga menyuguhkan hiburan berupa lawakan yang dikemas dalam sebuah drama, sehingga penonton tidak merasa bosan dengan apa yang disuguhkan. Hiburan lawakan tersebut terdiri dari tiga pemeran yang memiliki fisik berbadan besar dan gemuk. Dua pemeran sebagai calon lurah yang sangat ingin menjadi seorang lurah. Dalam memerankan lawakannya, mereka memamerkan perutnya yang buncit besar.

Sehingga ketika mereka baru saja muncul, penonton sudah tertawa apalagi ketika mereka beradu argumen dan datang satu orang lagi sebagai penengah. Akan tetapi satu orang tersebut yang seharusnya menengahkan mereka berdua, justru tidak dapat menengahi. Satu orang tersebut menguji dan mengadu mereka dengan argument yang mereka keluarkan. Dengan argument-argumen yang mereka lontarkan, para penonton tertawa hingga terpingkal-pingkal dengan apa yang mereka suguhkan.

Jaka Tarub
Pementasan Jaka Tarub, menceritakan mengenai seorang Jaka yang hidup bersama anaknya disebuah Gubuk di desa terpencil. Jaka dan anaknya yang sudah memasuki remaja, hanya hidup berdua dalam gubuk, tidak ada ibu atau istri yang menemani mereka. Pada suatu ketika, anak Jaka merindukan ibunya. Kemudian Jaka teringat mengenai cerita masa lalunya dan teringat awal pertama bertemu dengan Nawang. 

Jaka hidup sebatang kara, ibunya telah meninggal. Ibu Jaka berpesan kepada Jaka, bahwa ibunya ingin melihat Jaka menikah, akan tetapi Jaka belum bisa mengabulkan permintaan ibunya. Sehingga Jaka masih teringat terus menerus akan keinginan ibunya tersebut. Ketika Jaka sedang duduk di beranda, teman Jaka menghampiri dan berbincang dengan Jaka. Temannya memberikan semangat untuk Jaka, agar ia cepat-cepat menikah. Akan tetapi, Jaka masih pesimis dengan siapa ia akan menikah dan siapa yang bersedia menikah dengannya.
           
Hingga Jaka jenuh dan berjalan-jalan di dekat kolam, tiba-tiba terdapat 7 bidadari yang mendarat ke bumi untuk berendam di sebuah kolam. 7 bidadari menaruhkan selendangnya di atas batu, dan Jaka bersembunyi di balik tanaman yang berada di dekat batu. Ketika 7 bidadari berendam, tanpa sepengetahuan 7 bidadari, Jaka mengambil salah satu selendang mereka. Sehingga, salah satu dari mereka yaitu Nawang, kakak tertua mereka tidak dapat kembali ke kayangan karena selendangnya menghilang. Satu-satunya cara agar dapat kembali ke kayangan yaitu dengan menggunakan selendang, namun selendang tersebut sekarang hilang. Adik-adik Nawang tidak tega meninggalkan Nawang, akan tetapi Nawang tetap menyuruh adik-adiknya agar segera kembali ke kayangan. Hingga tersisa Nawang sendiri di dekat kolam, ia tidak dapat pulang ke kayangan.

Akhirnya Nawang memilih untuk berendam di dalam kolam dan berkata "apabila ada seorang perempuan yang memberikanku baju, maka akan aku jadikan sebagai sahabatnya. Akan tetapi bila ada seorang laki-laki yang memberikanku baju maka akan aku jadikan sebagai pasangan hidupku". Kemudian Jaka mendengar perkataan yang diucapkan oleh Nawang, Jaka mencoba mendekati Nawang dan mengajaknya berbincang.

Jaka mempertanyakan kembali apa yang dikatakan oleh Nawang, kemudian Nawang menjawab "Saya seorang bidadari, jadi saya tidak akan mengingkari janji yang telah saya ucapkan." kemudian Jaka memberikan baju milik ibunya kepada Nawang. Jaka dan Nawang pergi ke rumah dan menjadi sepasang suami istri. Jaka dan Nawang memiliki anak perempuan yang cantik. Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya, Jaka bekerja sebagai seorang petani.

Jaka setiap hari pergi ke sawah untuk merawat padi yang ditanamnya. Jaka berkata kepada Nawang "Kenapa padi yang berada di rumah tidak pernah habis, padahal kita selalu memakan nasi setiap hari. Mengapa padi-padi yang kita miliki hanya berkurang sedikit? Sedangkan stok padi milik tetangga sudah mulai menipis.” Namun, Nawang hanya diam saja, ia bingung harus menjawab bagaimana.

Setiap hari Nawang membuatkan nasi untuk mereka makan. Hingga suatu ketika Nawang ingin mencuci pakaian di sungai, ia berpesan kepada Jaka agar menjaga nasi yang sedang ia masak. Akan tetapi, Jaka tidak boleh melihat atau mengintip atau bagaimanapun cara agar dapat melihat isi di dalam panci yang dibuat untuk memasak nasi. Kemudian Jaka berjanji kepada Nawang untuk tidak membuka panci tersebut. Hingga Nawang berpamitan untuk pergi ke sungai dan meninggalkan Jaka bersama anaknya.

Jaka menggerutu dan menanyakan mengapa ia selalu tidak boleh membuka panci ketika  istrinya memasak nasi. Akhirnya Jaka penasaran dan mengintip isi di dalam panci tersebut. Ternyata di dalam panci yang digunakan untuk memasak nasi, isinya hanya sebiji padi. Ketika Istrinya pulang, Jaka mengomel-ngomel kepada istrinya “Kenapa kamu hanya memasak sebiji padi, kamu kira saya ini apa hanya memakan sebiji padi.” Nawang terkejut dengan ucapan yang dilontarkan oleh Jaka. Nawang berkata bahwa dengan sebiji padi ia dapat menyihir padi tersebut dengan keajaibannya dan menjadikan nasi yang banyak untuk dimakan oleh mereka. Namun, Nawang terlanjur sedih dan marah karena Jaka telah mengingkari janjinya.

Tanpa disengaja, Nawang menemukan selendang miliknya dibalik padi-padi yang bertumpukan, Jaka tidak percaya bahwa Nawang dapat menemukan selendangnya. Selama ini Jaka telah berbohong dengan cara menyembunyikan selendang milik Nawang, agar Nawang tidak dapat kembali ke kayangan dan Jaka tidak ingin kehilangan Nawang. Hingga akhirnya Nawang memilih pergi kembali ke kayangan dan meninggalkan Jaka bersama anaknya. Untuk mengingat Nawang, akhirnya anaknya diberi nama yaitu Nawang.

Pentas Monolog Balada Sumarah
            Pementasan Monolog Balada Sumarah akan ditunjukkan dalam acara Drama Nasional di Kendari, Sulawesi Tenggara yang pemainnya berasal dari Teater Gema, mahasiswa Universitas PGRI Semarag. Peran yang diperankan sangatlah memukau para penonton. Hanya dengan satu pemain saja, ia dapat berperan sebagai berbagai macam tokoh mulai dari jadi anak, ibu-ibu tukang gosip hingga menjadi seorang babu di negeri orang. Peran yang disuguhkan memiliki karakter sikap yang berbeda-beda dan mimik wajah yang menyerupai sesungguhnya. Sehingga penonton dibawa hanyu dalam cerita tersebut.

Monolog Balada Sumarah menceritakan mengenai seorang anak PKI yang dicaci maki oleh orang-orang disekitarnya. Hingga ia lulus dari sekolahnya dan ingin melanjutkan sekolah tidak bisa. Ia ingin kerja di Indonesia pun tidak bisa, hingga akhirnya ia memutuskan untuk bekerja di luar negeri yaitu di Arab Saudi. Selama ia bekerja disana, ia disiksa oleh majikannya. Ia tidak pernah berbuat kesalahan, akan tetapi ia selalu disiksa terus menerus dan uang gaji selama setahunnya juga tidak diberikan oleh majikannya. Hingga akhirnya ia kesal dan murka, berniat ingin membunuh majikannya. Pada suatu ketika, ia bersungguh-sungguh membunuh majikannya dan ia dihukum dengan hukum mati yaitu digantung hingga mati.

Semoga seni bermain peran dalam sebuah drama dan lain sebagainya akan tetap dilestarikan dan menjunjung tinggi kekreatifan mahasiswanya. Diharapkan selalu memberikan wadah bagi mahasiswanya dalam menyalurkan bakat dan minatnya di dalam berbagai hal salah satunya dunia bermain peran.


-- Dhini Huda Chasanati, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas PGRI Semarang.

Pentingnya Menanamkan Moral Kejujuran


Saya sependapat dengan artikel yang dibuat oleh Adi Ekopriyono, direktur eksekutif Budi Santoso Foundation, mengajar Etika Bisnis di FEB Untag Semarang. Artikel berjudul “Kejujuran dan Tata Kelola yang Baik” dimuat di Suara Merdeka pada Rabu, 24 September 2016. Pada era kompetisi sekarang ini, memang tata kelola pemerintah dan dunia usaha sangat berperan penting dan saling berkaitan dalam kompetisi persaingan. 

Tata kelola pemerintah dan dunia usaha harus dilakukan secara disiplin, bertanggung jawab dan jujur. Apabila tata kelola pemerintah dan dunia usaha tidak berjalan dengan baik maka sering terjadi korupsi dan kesenjangan di masyarakat. Hal tersebut membuat kelonggaran bagi koruptor yang akan beraksi dalam tata kelola pemerintah dan dunia usaha yang tak berjalan dengan semestinya. 

Dibutuhkan tata kelola pemerintah dan dunia usaha yang berjalan dengan sabaik-baiknya. Tidak hanya itu saja, masyarakat juga harus mampu memenangi permainan dan berdaya saing yang kuat. Apabila tidak mampu memenangi permainan dan berdaya saing yang kuat, maka yang akan terjadi yaitu tersingkir dari kompetisi yang berlangsung di masyarakat.

Kompetisi yang terjadi di Indonesia ialah kompetisi yang lebih mengedepankan uang dibandingkan dengan prestasi. Seperti sekarang ini, apabila memiliki uang dan menyuap, maka dapat dengan mudah memenangkan kompetisi. Sebaliknya, apabila memiliki prestasi lebih akan tetapi tidak mempunyai uang yang lebih, akan lebih berusaha keras dalam memenangkan kompetisi yang terjadi sekarang ini.

Masyarakat sekarang ini hanya pasrah terhadap kompetisi yang dilakukan oleh pemerintah atau pejabat. Masyarakat dijadikan sebagai boneka oleh pemerintah. Masyarakat hanya dapat menerima dan tunduk terhadap perlakuan pemerintah, tanpa bisa melawan kekuasaan pemerintah yang terjadi. Pemerintah pada era sekarang ini hanya mementingkan urusan politik dan kepentingan pibadi. Pemerintah tidak jeli dalam memperhatikan kepentingan masyarakatnya.

Orang yang memegang teguh pendirian dalam bekerja dengan kebaikan dan mampu mengendalikan diri dalam menjalankan pekerjaannya merupakan orang yang memiliki kepribadian yang amat bagus. Akan tetapi, pada sekarang ini, semakin sedikit orang yang dapat dipercaya dan dapat menepati janjinya. Seharusnya, ketika kita menjalankan pekerjaan, maka yang terpenting ialah kebaikan dan mengendalikan diri dalam menjalankan pekerjaannya. Apabila kebaikan dan pengendalian diri dipegang teguh, maka segala hal yang menggoyahkan napsu seperti kebohongan, penipuan, hal tidak terpuji akan sirna.

Dalam islam sudah dijelaskan pada surat Al-Zalzalah ayat 7 dan 8 “Barang siapa berbuat kebaikan sekecil apapun perbuatan baik itu, dia akan menyaksikan hasilnya. Begitu pula yang melakukan perbuatan buruk, sekecil apapun perbuatan buruk itu, dia akan menyaksikan hasilnya.” Maka dari itu, kita sebagai manusia harus berbuat kebaikan meskipun sekecil apapun, sebab kebaikan sekecil apapun dapat bermanfaat bagi orang lain yang membutuhkannya. Sebaliknya, apabila kita melakukan keburukan meskipun sekecil apapun, maka keburukan tersebut akan merugikan bagi kita sendiri.

---Dhini Huda Chasanati, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas PGRI Semarang.

Sabtu, 17 Desember 2016

Momok Ujian Nasional

Saya setuju dengan tulisan yang dibuat oleh Setia Naka Andrian yang berjudul “Menimbang (Ketiadaan) UN” yang dimuat Wawasan, 14 Desember 2016. Ujian Nasional ditiadakan itu bagus, sebab kelulusan peserta didik tidak hanya ditentukan selama beberapa hari saja. Namun kelulusan peserta didik juga harus dinilai dari hasil proses belajar peserta didik selama menempuh pendidikan. Ujian Nasional dianggap sebagai momok didalam menempuh perjalanan pendidikan. Seakan perjuangan dan proses selama bertahun-tahun menempuh pendidikan  dianggap mempunyai peranan yang kurang penting dalam kelulusan. Selain itu, dalam Ujian Nasional hanya sejumlah mata pelajaran yang diujikan, seakan mengesampingkan mata pelajaran yang tidak diujikan dalam Ujian Nasional. 

Ujian Nasional dianggap sebagai indikator penting dalam kelulusan dan tidak memperdulikan proses yang dilalui peserta didik sebelumnya. Sehingga dalam pelaksanaan Ujian Nasional terdapat banyak kecurangan, seperti dimanfaatkan pihak-pihak tertentu sebagai ajang bisnis dan kebocoran soal sehingga mengakibatkan beredarnya kunci jawaban. Termasuk didalam Ujian Nasional peserta didik tertekan dibuatnya, sehingga tidak sedikit peserta didik yang menggunakan cara instan untuk menginginkan lulus dengan nilai yang bagus. Seakan yang terpenting yaitu lulus, bukan bagaimana mendapatkan ilmu yang bermanfaat bagi kita dalam menempuh pendidikan untuk kehidupan di masa yang akan datang. Dalam kecurangan tersebut juga mengakibatkan kegagalan dalam menanamkan pendidikan karakter peserta didik.

Apabila Ujian Nasional jadi ditiadakan, sebaiknya diganti dengan ujian lain yang lebih mengedepankan proses yang ditempuh oleh peserta didik selama menempuh pendidikan. Bukan ditentukan dengan beberapa hari saja peserta didik lulus menempuh pendidikan. Selain itu, dalam ujian, peserta didik bukan hanya belajar mengenai mata pelajaran tertentu saja. Namun, pelajaran yang lain pula dapat diikutsertakan, agar tidak mengesampingkan mata pelajaran yang lain. Ujian memang harus diadakan, sebagai hasil evaluasi peserta didik selama menempuh pendidikan. Ujian juga membiasakan peserta didik agar mau belajar dan membentuk mental peserta didik dalam menghadapi ujian.

Dhini Huda Chasanati