Serangkaian acara dalam UPGRIS Bersastra yang paling
utama ialah mengenai Lounching Gebyar Bulan Bahasa yang membedah mengenai 3
Buku, 3 Pembaca, 3 Kritikus dan 1 Pengarang. 3 buku tersebut karya dari
Triyanto Triwikromo. Judul buku tersebut ialah Bersepeda Ke Neraka, Selir Musim
Panas dan Sesat Pikir Para Binatang. Acara tersebut menghadirkan langsung
pengarang buku yaitu Triyanto Triwikromo. Dalam acara tersebut, Rektor beserta
jajarannya menghadiri acara tersebut guna memeriahkan serangkaian Bulan Bahasa,
Universitas PGRI Semarang.
Acara UPGRIS Bersastra tidak hanya menghadirkan
Triyanto Triwikromo sebagai bintang tamu utama, melainkan dalam acara UPGRIS
Bersastra juga menghadirkan tiga kritikus yaitu Dr. Nur Hidayat, Drs. S.
Prasetyo Utomo, M.Pd dan Widyanuari EKo Putro, S.Pd. Dalam acara tersebut
dipimpin oleh host yang bernama Dr. Harjito. Host yang memimpin acara inti UPGRIS
Bersastra merupakan seorang penyair. Akan tetapi beliau meninggalkan pekerjaaan
sebagai seorang penyair dan memilih menjadi pengarang buku.
Diawal acara memberikan hiburan dari grup musik yang
terdiri dari 3 orang, nama grup musik tersebut ialah Biscuittime. Semua lagu
yang dinyanyikan berasal dari puisi-puisi yang kemudian dinyanyikan hingga
menjadi musikalisasi puisi. Biscuittime hanya menyanyikan kumpulan puisi-puisi,
berbeda dengar grup musik yang lainnya. Biscuittime juga menyanyikan
musikalisasi puisi dari hasil puisi karya mereka sendiri. Pada acara UPGRIS
Bersastra, Biscuittime menampilkan musikalisasi puisi hasil karya dari Triyanto
Triwikromo. Suaranya sangat merdua dan lantunan gitar yang menemani pun sangat
menyentuh di hati para penonton.
Pembacaan puisi dibacakan oleh Rektor Universitas
PGRI Semarang ialah Dr. Muhdi, S.H. M.Hum dan Wakil Rektor Dra. Sri Suciati,
M.Hum. Selain membacakan puisi karya Triyanto Triwikromo, Rektor Universitas
PGRI Semarang juga menampilkan penampilannya yaitu menyanyi sambil memainkan
gitar. Akan tetapi, Rektor merasa malu dan tidak yakin menampilkan menyanyi
sambil memainkan gitar. Sebab beliau tidak mempunyai jiwa seni di dalam
darahnya. Dengan rasa yakin, akhirnya beliau menampilkan untuk menyanyi sambil
bergitar. Disela-sela menyanyi, beliau juga tertawa dengan apa yang beliau
lantunkan. Namun beliau tetap menampilkan yang terbaik untuk para hadirin yang
telah datang, terutama untuk Triyanto Triwikromo. Beliau menyanyikan lagu
ciptaannya sendiri ketika di masa mudanya. Lagu tersebut dilatar belakangi
untuk menyindir orang-orang yang suka mabuk-mabukan.
Selain Rektor Universitas PGRI Semarang, Wakil
Rektor Dra. Sri Suciati, M.Hum juga menampilkan hiburan berupa nembang jawa dan
pembacaan puisi. Ketika menembang jawa, Dra. Sri Suciati, M.Hum tidak sendiri,
ia ditemani oleh mahasiswi semester satu jurusan Bahasa Inggris. Suara beliau
dan mahasiswi saat menembang sangat merdu, hingga membuat bulu kuduk menjadi
merinding dengan apa yang dilantunkan beliau. Suasana di Balairung menjadi riuh
akan tepuk tangan dari penonton yang mendengarkannya. Ketika membacakan puisi,
Dra. Sri Suciati sangat menghayati puisi yang dibacanya. Dengan intonasi dan
pelafalan pembacaan puisi sangat jelas, hingga pesan dalam puisi dapat tersampaikan
ke penonton.
Dalam pembedahan buku Triyanto Triwikromo, yang
dibedah oleh tiga kritikus, terdapat hal yang menarik. Hal menarik tersebut
ialah dalam pembuatan buku-buku Triyanto Triwikromo bahasa yang digunakan tidak
mudah dipahami oleh orang-orang, meskipun orang yang membaca dan mempelajari
sastra juga tidak begitu saja mudah memahami isi buku puisi karya Triyanto
Triwikromo. Salah satu yang membacakan puisi hasil karya Triyanto Triwikromo
ialah Dra. Sri Suciati juga mengatakan bahwa ia tidak mudah memahami isi puisi
yang dibacakan olehnya. Harus berulang kali ia membaca agar mudah memahami isi
puisi yang dibaca.
Salah satu kritikus yaitu Widyanuari EKo Putro, S.Pd
menyampaikan bahwa dalam memahami satu buku Triyanto Triwikromo harus membaca
empat buku sekaligus agar mudah memahaminya. Dapat disimpulkan bahwa menjadi
seorang penyair tidak gampang dan bertahan untuk menjadi seorang penyair juga
tidak mudah. Banyak penyair yang meninggalkan pekerjaannya itu dan lebih
memilih menjadi pengarang buku atau yang lain sebagainya.
Menjadi seorang penyair harus mempunyai banyak ilmu
pengetahuan dan referensi dalam menghasilkan tulisan karyanya. Triyanto
Triwikromo merupakan seorang penyair yang sangat cerdas. Beliau tidak hanya
menciptakan puisi-puisi saja, akan tetapi ia juga menciptakan buku yang disudah
diterjemahkan dengan berbagai bahasa asing. Jadi, buku beliau tidak hanya
dibaca oleh orang-orang Indonesia. Akan tetapi warga asing juga dapat membaca
buku hasil karya dari Triyanto Triwikromo. Seorang penyair yang sangat
membanggakan negeri karena mempunyai seorang penyair yang sangat berprestasi.
Untuk mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, seharusnya
kita lebih giat mengembangkan dan belajar mengenai sastra. Sebab siapa lagi
yang akan menggantikan seorang penyair-penyair di negeri ini kalau bukan yang
menyukai seni atau mahasiswa-mahasiwa yang belajar seni. Triyanto Triwikromo
merupakan penyair yang harus dicontoh prestasinya. Beliau merupakan penyair
yang sangat hebat, semoga kita semua dapat termotivasi dan meniru atas prestasi
yang ditorehkan oleh beliau. Salam sastra!
--Dhini Huda Chasanati,
Mahasiswa Universitas PGRI Semarang.
0 komentar:
Posting Komentar