Senin, 25 Januari 2016

Mengancam Kenangan, Seluruh Mahluk, Manusia Dan Benda.

Pada hari Kamis, 8 Oktober 2015 bertempat di Gedung Pusat lantai 7 Universitas PGRI Semarang, Teater Tikar menghadirkan sebuah pementasan teater yang berjudul “Mengancam Kenangan” karya Iruka Danishwara dan Sutradara Ibrahim Bhra dengan para pemeran yaitu Iruka Danishwara, Solekhah Nur H W, Reza Akbar P, Elina Zahra Y, Imam Machfudz, dan Siti Maghfiroh.
Naskah “Mengancam Kenangan”, karya Iruka Danishwara (anggota Teater Tikar) merupakan tafsiran atau representasi kejemuan siapapun dalam menyikapi kenangan. Karena yang memiliki kenangan bukan hanya manusia, tapi seluruh makhluk bahkan benda atau apa dan siapapun berhak memiliki kenangan. Naskah “Mengancam Kenangan” merupakan tumpukan dan benturan antara kenangan satu dengan lainnya, yang berintegrasi, saling melilit. “Mengancam Kenangan” meminta untuk diurai, ditarik satu per satu ‘lilitan’ kenangan tersebut agar kita memosisikan kenangan secara tepat. Akhirnya kita bisa menyikapi kenangan secara bijak. Jika berdamai atau melawan kenangan merupakan sebuah kekonyolan, maka mengancam kenangan menjadi alternatif, karena mengatur kenanganpun sangat tidak memungkinkan.
Naskah “Mengancam Kenangan” memang tidak memberi ruang kita untuk rehat berpikir serta sejenak mendiamkan perasaan. Tumpukannya terlampau padat. Bakal melelahkan pemain (juga penonton) jika nuansa melankolis tidak dibarengi dengan suasana yang bermacam. Eksplorasi gerak, nada dialog, ilustrasi serta setting menjadi keharusan. Dengan setidaknya lima pemeran, interpretasi kenangan serta penyikapannya.

Kenangan sepertinya bersekutu dengan pagi, tapi tidak mengusik, tidak juga berisik.
Bermula dari suatu pagi dengan seorang Nyonya yang menggengam gagang sapu untuk menyapu kerikil-kerikil dari ubin teras rumahnya. Terdengar suara bisikan dari empat pemeran yang memakai kostum seperti jubah, menggambarkan diri sebagai pagi yang berisik. Pada pagi hari itu mereka berisik untuk mencari perhatian Nyonya. Mereka terus menanyakan mengapa Nyonya setiap hari harus menyapu terasnya dan besok pagi sudah kotor lagi. Setiap pagi setelah selesai dengan sapu dan debu-debu di terasnya, Nyonya selalu mengusap empat piguranya yang berdebu dengan satu persatu. Seperti sudah menjadi rutinitasnya, Nyonya setiap pagi menangisi empat pigura yang terpasang di dinding rumahnya.


Biarkan saja rindu ini menggunung, lalu kau dapat mendakinya hingga awan dan meretaskan hujan keresahan.
Pertunjukan selanjutnya memakai properti bak mandi. Tokoh pria mencari-cari tokoh wanita dan mulai gelisah karena sang tokoh wanita tidak ada di dalam bak mandi. Tokoh pria mulai bercakap dengan tokoh wanita, tetapi ternyata pria hanya berbincang dengan bayangan hitam sang wanita di dalam air. Bayangan sang wanita tertinggal di dalam bak mandi dengan aroma yang masih saja sama membuat tokoh pria mengira wanita itu berada di dalam bak mandi. Ternyata pria itu terlalu merindukan sosok wanita hingga ia bercita-cita untuk bisa mendakinya, menyentuh awan dan mengatakan pada mereka agar meretaskan hujan yang membawa keresahannya. Sang pria harus menenggelamkan cerita-cerita tentang sang wanita di dalam bak mandi dan mengganti airnya agar cerita tentang sang wanita dan aroma tubuhnya turut terbuang. Kemudian ia mengikuti apa yang dikatakan wanita itu yaitu dengan membuang air yang mulai keruh agar tidak ada lagi aroma, tidak ada cerita-cerita, menyingkirkan semua bayangan dan juga ancaman.

Sembunyikanlah sedalam yang kau bisa. Tutupilah serapat yang kau mampu. Namun, kenangan tetap hadir, di manapun kau berada.
Setiap pagi dan siang Nyonya selalu mengusap keempat piguranya tetapi kini ia tergeletak lemah, mata yang basah setiap pagi dan siang kini rapat terpejam. Nyonya tidak pernah tau bagaimana wujudnya, tetapi nyonya menghadirkannya di keempat pigura dan melukisnya di dinding-dinding rumah. Nyonya selalu mengharapkan bayangan itu hadir setiap pagi. Ketika malam tiba, Nyonya hanya berbincang-bincang dengan dinding. Kemudian dinding-dinding itu bertanya kepada Nyonya, mengapa nyonya tidak pernah tahu bagaimana menghentikan apa saja yang datang?. Menurut sang Nyonya, mengapa harus di hentikan, bukankah sikap yang paling baik hanya menerima saja?. Akan tetapi, sang Nyonya hanya membiarkan itu semua terjadi, bukan menerima sesuatu yang ada di hadapannya.

Kepada bulan dan mentari yang kucinta, aku akan memberimu doa setiap pagi dan malam, kau memberi aku lupa atas kenangan.
Nyonya dan anak laki-lakinya mulai berbincang, membicarakan perihal Ayah yang telah lama pergi meninggalkannya entah kemana. Sang Nyonya tidak mau menceritakan kepada anaknya perihal kemana Ayah yang bersayap emas itu pergi. Tetapi anak laki-laki itu tidak ingin tahu dimana Ayahnya, dia hanya ingin cerita-cerita dari Ibu tentang Ayahnya. Namun, Nyonya tetap menolak untuk menceritakan kepada anak laki-laki perihal Ayahnya. Kemudian anak laki-laki meminta Nyonya untuk menceritakan sebuah dongeng. Namun dongeng yang di inginkan oleh anaknya semua berhubungan dengan nasib hidup Nyonya yang kelam.
Pada bagian ini, pemeran Nyonya menyampaikan sebuah dialog dengan cara bernyanyi. Suara yang merdu tanpa alunan musik, hanya mengandalkan alunan suara dari mulutnya yang mampu menarik dan mencuri perhatian penonton, dibarengi dengan mimik wajah yang sangat menghayati dialog tersebut.
Setiap pagi Nyonya menyapu teras rumahnya, akan tetapi pada pagi itu Nyonya enggan menyapu teras rumahnya dan memilik menyingkirkan tiga pigura yang berjajar di ruang tamunya. Nyonya ingin semua debu-debu yang mengetahui kenangannya berterbangan dan menyingkir. Lalu, Nyonya teringat sesuatu hal dan ternyata Nyonya ingin menangkap dan membawa anknya pergi, agar tidak menghilang seperti Ayahnya. Kemudian, dua orang berbisik kepada sang Nyonya agar melepaskan anak lelaki itu yang kelak ia akan menjadi seperti Ayahnya yang pergi entah kemana bersama sayap emasnya. Ternyata tanpa dilepaskan, tangan sang Nyonya bergetar dan melepaskan dengan sendirinya, hingga akkhirnya anak lelaki itu pergi entah kemana.

Ketika harapan itu sudah tidak ada, sudah pupus sepenuhnya, maka aku memilih kenangan.
Pada bagian ini, anak laki-lakinya Nyonya yang terus meminta untuk diceritakan tentang Ayahnya. Namun, untuk berbicara saja Nyonya mengalami kesulitan, apalagi harus bercerita tentang Ayahnya. Kemudian kenangan itu hadir kembali diingatan Nyonya, setelah anak laki-lakinya lelah mencari dan mengeruk cerita dari bibir Nyonya tentang dimana Ayah dan sayap emasnya, lalu Ia lebih baik memilih untuk pergi meninggalkannya lagi. Ia menjadi seperti orang yang menyerah  sebelum berperang dan sudah putus asa atas segala keputus-asaan yang ada dalam dirinya.  

Saling mengenang, saling mengancam. Saling silang.
Pada bagian ini, Nyonya mengingat kenangan masa lalunya yaitu tentang anak laki-laki dan suaminya yang meninggalkan rumah dan membuat Nyonya hidup sebatang kara. Raut wajah Nyonya yang bahagia dan kecewa silih berganti.  Nyonya selalu menunggu anaknya datang dan hanya Ia yang dapat menghentikannya. Debu-debu di dinding mencoba mengingatkan Nyonya bahwa ada yang bisa menghentikan ini semua, tetapi Nyonya kokoh dengan pendiriannya bahwa tidak ada yang bisa menghentikan. Semua pemeran dapat memerankan karakter mereka dengan sangat menarik, membuat semua penonton tercengang dan ikut larut dalam cerita yang mereka bawakan.

Sembunyikanlah sedalam yang kau bisa. Tutupilah serapat yang kau mampu. Namun, aku tetap hadir, di manapun kau berada.
Di dalam menghabiskan sisa masa hidup, Nyonya hanya bisa menunggu dan menunggu kehadiran anak lelakinya dengan mengusap pigura yang berisi gambar wajah anak lelaki yang tersenyum bahagia, akan tetapi anak lelaki tak kunjung menemuinya. Nyonya hanya bisa tenggelam dalam kenangan bersama anak lelakinya dan membuat Nyonya terpuruk di dalam sisa masa hidupnya. Sebuah kenangan sudah mengancam dan membayangi seluruh sisa masa hidup Nyonya, membuat sebuah kenangan menjadi bersifat abadi dan kenangan tidak akan pernah terkubur di dalam hidupnya.

Yang memancing kenangan itu tetap hadir adalah indera dan rasa.
Pada bagian ini, Nyonya tidak pernah tau bagaimana cara memusnahkan kenangan, karena kenangan itu datang melalui indera, lewat visualisasi, suara, dan sentuhan bersama rasa yang bahagia, marah, dan sedih. Kenangan akan semakin menumpuk di sepanjang masa hidup, dan kenangan tak akan ada habisnya. Seorang tokoh mengatakan kepada Nyonya bahwa sesuatu yang bermula pasti ada akhirnya, akan tetapi Nyonya sangat yakin bahwa sebuah kenangan tidak akan pernah berakhir.

Dan mungkin yang kekal di dunia ini selain Tuhan, hanyalah kenangan…
Memasuki akhir cerita, penonton dibuat bertanya-tanya dengan apa yang terjadi pada akhir cerita Mengancam Kenangan ini. Pada cerita ini, Mengancam Kenangan menggunakan alur mundur yang dapat kita ketahui dari penyampaian cerita yang mengulang tentang masa lalunya. Cerita yang menggunakan alur mundur, tidak mudah dipahami dan tidak mudah ditebak jalan ceritanya. Semua pemeran memerankan dengan sangat menakjubkan, di dukung dengan audio, dan properti yang menarik.
Mengancam Kenangan memberikan gambaran dan pelajaran kepada penonton betapa sulitnya melupakan dan menghilangkan kenangan di masa lalu. Setiap manusia mempunyai masalah dengan kenangannya, akan tetapi semua tergantung dari diri sendiri apakah kita mampu berdamai dengan kenangan dan menempatkan kenangan tersebut sebagai pelajaran, atau kita memilih untuk gagal berdamai dengan kenangan dan terpuruk dalam hidupnya. Kita semua harus menjadikan sebuah kenangan sebagai pembelajaran di masa yang akan datang.

0 komentar:

Posting Komentar